sepasang kelingking telah kita tautkan siang tadi
jangan lagi menjauh, katamu
sebab kata jauh, tak lebih ialah penjara yang hanya dibangun
untuk pikiran-pikiran kalah
sementara separuh dadaku paham,
debarmu ialah suara yang dengan sengaja pernah ia rekam
namun tak pernah mampu ia tirukan
terik siang seperti tak ingin meminjamkan payung
untuk aku berlindung dari isi kepalamu yang menyamai gerimis
wajah yang luput dari pulasan bedak
bibir tipis disaput gincu
cukup mewakili rimbun akasia yang meneduhkan taman-taman kota
ternyata semestamu masih sama
tatapan matamu setara bintang-bintang jatuh
setiap kedipannya membuatku lupa
hari ini senja dimulai pukul berapa
kata-katamu panjang dan lembut
seperti gulungan benang-benang yang mengait di mesin tenun
hingga terbentuk selembar sutra
menggambar kekagumanku
menulis rahasia tanpa peduli melacak asal-usulnya
tak ada yang perlu dibatalkan!
sebab aku mencintaimu, dengan segala ketelanjuran
15 Okt 2015
22 Sep 2015
Sederhana Saja
saat kita tua nanti, aku hanya ingin mengajakmu
mengamati bagaimana cara semesta saling melibatkan
pagi yang selalu melibatkan kicau camar,
malam yang kerap melibatkan bintang,
juga semilir angin sepanjang hari
yang mengajari daun-daun menari
sederhana, bukan?
setelah itu, aku akan mengajakmu
untuk memohon dengan cara mereka
pernahkah kau dengar cara mereka berdoa?
jika kau tak pernah mendengar itu,
mari meniru
sebuah permohonan tak harus terdengar, sayang
seperti jantungku yang meminjam degupmu
darahku yang melibatkan desirmu
juga kedipmu yang melumasi mataku
kita disatukan
layaknya pagi yang selalu melibatkan kicau camar
malam yang kerap melibatkan bintang,
juga semilir angin sepanjang hari
yang mengajari daun-daun menari
sederhana, bukan?
mengamati bagaimana cara semesta saling melibatkan
pagi yang selalu melibatkan kicau camar,
malam yang kerap melibatkan bintang,
juga semilir angin sepanjang hari
yang mengajari daun-daun menari
sederhana, bukan?
setelah itu, aku akan mengajakmu
untuk memohon dengan cara mereka
pernahkah kau dengar cara mereka berdoa?
jika kau tak pernah mendengar itu,
mari meniru
sebuah permohonan tak harus terdengar, sayang
seperti jantungku yang meminjam degupmu
darahku yang melibatkan desirmu
juga kedipmu yang melumasi mataku
kita disatukan
layaknya pagi yang selalu melibatkan kicau camar
malam yang kerap melibatkan bintang,
juga semilir angin sepanjang hari
yang mengajari daun-daun menari
sederhana, bukan?
4 Sep 2015
Ruang Percakapan
kita terkunci di ruangan ini
pengap dan gelap, kataku
aku tak pernah bisa melihat rasi bintang
bulan kesiangan
juga jendela kaca yang mengembunkan sisa air hujan
siapa yang mengunci kita di sini?
waktu yang kurang baik hati,
atau hanya rasa takut untuk saling memiliki?
sementara dari matamu,
kulihat jatuh cinta seperti manis kembang gula
kagum kita,
nanar mata bocah lapar yang ingin menjilatinya
atau kita tak perlu keluar dari ruangan ini
menikmati percakapan yang selalu luput direkam matahari
di sini pengap dan gelap
tapi aku bahagia, katamu
pengap dan gelap, kataku
aku tak pernah bisa melihat rasi bintang
bulan kesiangan
juga jendela kaca yang mengembunkan sisa air hujan
siapa yang mengunci kita di sini?
waktu yang kurang baik hati,
atau hanya rasa takut untuk saling memiliki?
sementara dari matamu,
kulihat jatuh cinta seperti manis kembang gula
kagum kita,
nanar mata bocah lapar yang ingin menjilatinya
atau kita tak perlu keluar dari ruangan ini
menikmati percakapan yang selalu luput direkam matahari
di sini pengap dan gelap
tapi aku bahagia, katamu
14 Jul 2015
Bait Singkat dari Meja Bambu
ternyata, waktu juga bisa berubah menjadi hakim yang adil
melantik purba rinduku,
tertulis di lembar terakhir kalender usang yang hanya memuat bulan-bulan ganjil
lelah sudah terbaring,
pulas mendengar dongeng tentang baju penghangat yang kaukenakan dengan cara terbalik
cemas sudah mengalah,
santun menunduk dibius aroma parfum yang terus membuntuti
entah kapan, atau barangkali nanti malam
rinduku akan sekali lagi mendatangimu dengan bibir gemetar
mengantar pertanyaan bagaimana dan mengapa yang berulangkali gagal ia sujudkan
sesekali, ajari dia tertawa seperti anak-anak angin yang bercanda dengan helai-helai rambutmu
agar ia paham, resah tak perlu dipelihara
ada baiknya segala yang diminta cukup disampaikan dalam doa
dari binar matamu,
aku membaca sebait kata pengantar di buku terbuka yang ditulis penyair piatu
sajak-sajak beraroma tanah basah
kalimat-kalimat yang memuat gundah
juga suara sunyi yang ditiupkan lamban daun-daun trembesi
sejak malam ini, mungkin kau akan percaya
rindu tak ubahnya dosa kecil yang hanya bisa diampuni oleh satu kali pertemuan
langkah ini hanyalah caraku membuktikan bulatnya bumi
berjalan menjauh, agar bisa menemukanmu kembali
melantik purba rinduku,
tertulis di lembar terakhir kalender usang yang hanya memuat bulan-bulan ganjil
lelah sudah terbaring,
pulas mendengar dongeng tentang baju penghangat yang kaukenakan dengan cara terbalik
cemas sudah mengalah,
santun menunduk dibius aroma parfum yang terus membuntuti
entah kapan, atau barangkali nanti malam
rinduku akan sekali lagi mendatangimu dengan bibir gemetar
mengantar pertanyaan bagaimana dan mengapa yang berulangkali gagal ia sujudkan
sesekali, ajari dia tertawa seperti anak-anak angin yang bercanda dengan helai-helai rambutmu
agar ia paham, resah tak perlu dipelihara
ada baiknya segala yang diminta cukup disampaikan dalam doa
dari binar matamu,
aku membaca sebait kata pengantar di buku terbuka yang ditulis penyair piatu
sajak-sajak beraroma tanah basah
kalimat-kalimat yang memuat gundah
juga suara sunyi yang ditiupkan lamban daun-daun trembesi
sejak malam ini, mungkin kau akan percaya
rindu tak ubahnya dosa kecil yang hanya bisa diampuni oleh satu kali pertemuan
langkah ini hanyalah caraku membuktikan bulatnya bumi
berjalan menjauh, agar bisa menemukanmu kembali
7 Jun 2015
Minggu Malam di Surabaya Selatan
sepoi angin beraroma wangi malam itu
semerbak Lily menyusup ke penciuman,
menjalar ke debar-debar
harum itu diedarkan rona malu kita yang saling kejar di udara
kau duduk di depanku dengan senyuman yang sungguh tenang
berdua, kita mempelajari kecewa
tentang sesuatu yang mustahil untuk disatukan
kau iris perihnya menjadi beberapa bagian,
lalu kita nikmati bergantian
seketika semesta menahan napas,
ketika pandanganku berhenti di lapang dadamu
laksana langit bermahkota pelangi
tempat mandi anak-anak khayalku yang bermain air di bawah hujan pagi
dari dada itu pula, aku menyadap luka hidup dan pedihnya keterjatuhan
sebaris nama-nama berhasil kusimpan
nama yang kuanggap musuh besar paling licik,
di salah satu judul dongeng yang dulu diceritakan ibu setiap jelang tidurku
adakah temaram yang mampu melampaui sembap matamu?
sementara pertanyaan itu datang,
kita masih menyimpan kagum rahasia yang saling mencari di setiap malamnya
berpijak pada gundah,
mengitari halaman tanda tanya
meminjam kaki keliru bernama cinta
atau esok, kita tanyakan saja pada senja?
sambil mengajari anak-anak angin yang khilaf itu
bermain tiup menempelkan beberapa helai rambut di kenyal pipimu
percuma saja, malam tak juga menua
seperti ingin mencuri dengar atas cerita dua anak manusia
kebahagiaan yang dirundung kemustahilan
ketenangan yang menerus dihimpit kecemasan
hadirmu ombak laut setenang perigi
naluriku nakhoda muda yang gusar dan kurang teliti
sesumbar mengajakmu memandu kapal menuju dermaga
menghabiskan sisa usia dengan hangat rahasia sebagai tirainya
agar kau bersedia menetap di sini
menikmati denting kecapi
atau menjadi denyut-denyut ganjil yang menggenapi sepinya nadi
semerbak Lily menyusup ke penciuman,
menjalar ke debar-debar
harum itu diedarkan rona malu kita yang saling kejar di udara
kau duduk di depanku dengan senyuman yang sungguh tenang
berdua, kita mempelajari kecewa
tentang sesuatu yang mustahil untuk disatukan
kau iris perihnya menjadi beberapa bagian,
lalu kita nikmati bergantian
seketika semesta menahan napas,
ketika pandanganku berhenti di lapang dadamu
laksana langit bermahkota pelangi
tempat mandi anak-anak khayalku yang bermain air di bawah hujan pagi
dari dada itu pula, aku menyadap luka hidup dan pedihnya keterjatuhan
sebaris nama-nama berhasil kusimpan
nama yang kuanggap musuh besar paling licik,
di salah satu judul dongeng yang dulu diceritakan ibu setiap jelang tidurku
adakah temaram yang mampu melampaui sembap matamu?
sementara pertanyaan itu datang,
kita masih menyimpan kagum rahasia yang saling mencari di setiap malamnya
berpijak pada gundah,
mengitari halaman tanda tanya
meminjam kaki keliru bernama cinta
atau esok, kita tanyakan saja pada senja?
sambil mengajari anak-anak angin yang khilaf itu
bermain tiup menempelkan beberapa helai rambut di kenyal pipimu
percuma saja, malam tak juga menua
seperti ingin mencuri dengar atas cerita dua anak manusia
kebahagiaan yang dirundung kemustahilan
ketenangan yang menerus dihimpit kecemasan
hadirmu ombak laut setenang perigi
naluriku nakhoda muda yang gusar dan kurang teliti
sesumbar mengajakmu memandu kapal menuju dermaga
menghabiskan sisa usia dengan hangat rahasia sebagai tirainya
agar kau bersedia menetap di sini
menikmati denting kecapi
atau menjadi denyut-denyut ganjil yang menggenapi sepinya nadi
19 Mei 2015
Kedatangan Pemilik Sore
berawal dari ambang maya di pelataran kata
kita saling membaca
lalu terjangkit kagum yang sama
tak mungkin bisa dijelaskan pandangan mata, gerak raga
bahkan guncangan debar yang menginjak rapuhnya tulang-tulang dada
dengan kekuatan hasrat yang tak kauketahui,
aku mengumpulkan ribuan senja yang ramah
sebagai kalam yang kumaharkan
untuk cahaya sore yang biasa menyentuh hijau urat pipimu
aku juga memiliki sekumpulan degup yang jujur
sudi berkarib dan sedia mengawal ke mana perginya arah jantungmu
selanjutnya, seucap doa akan kutiupkan sebelum terpejam
agar ia menyatu dengan langit-langit kamar
suhu ruangan
serta apa saja barang bisu di situ
yang lebih dulu kasmaran pada semesta tubuhmu
maka tetaplah seperti ini
ajak aku menuju kota yang tak memiliki pagi,
atau terik matahari yang seringkali menyakiti
ditenangkan merdu tembang-tembang serangga
yang menggelar pesta sambutan untuk datangnya musim penghujan
masih tersisa satu tanya
sudah berapa hati yang jatuh, sesaat setelah sepasang mata itu kaukedipkan?
kita saling membaca
lalu terjangkit kagum yang sama
tak mungkin bisa dijelaskan pandangan mata, gerak raga
bahkan guncangan debar yang menginjak rapuhnya tulang-tulang dada
dengan kekuatan hasrat yang tak kauketahui,
aku mengumpulkan ribuan senja yang ramah
sebagai kalam yang kumaharkan
untuk cahaya sore yang biasa menyentuh hijau urat pipimu
aku juga memiliki sekumpulan degup yang jujur
sudi berkarib dan sedia mengawal ke mana perginya arah jantungmu
selanjutnya, seucap doa akan kutiupkan sebelum terpejam
agar ia menyatu dengan langit-langit kamar
suhu ruangan
serta apa saja barang bisu di situ
yang lebih dulu kasmaran pada semesta tubuhmu
maka tetaplah seperti ini
ajak aku menuju kota yang tak memiliki pagi,
atau terik matahari yang seringkali menyakiti
ditenangkan merdu tembang-tembang serangga
yang menggelar pesta sambutan untuk datangnya musim penghujan
masih tersisa satu tanya
sudah berapa hati yang jatuh, sesaat setelah sepasang mata itu kaukedipkan?
9 Des 2014
Selasa Pagi
Selasa pagi pernah bertanya,
Bagaimana kabarmu?
Lembut, lamban menyerupai kepak sayap kelelawar yang berpura-pura membenci matahari
Melebihi lentur angin yang mengajari pohon-pohon menari
Bagaimana kabarmu?
Lembut, lamban menyerupai kepak sayap kelelawar yang berpura-pura membenci matahari
Melebihi lentur angin yang mengajari pohon-pohon menari
Selasa pagi juga bertanya,
Ke mana perginya pelukan yang pernah kaupuja dengan delapan ratus bahasa?
Kecup yang kaukatakan pandai menidurkan rembulan luka karena gerhana,
Atau usap paling menenangkan bagi angsa yang dijangkiti kecewa karena arus telaga
Ke mana perginya pelukan yang pernah kaupuja dengan delapan ratus bahasa?
Kecup yang kaukatakan pandai menidurkan rembulan luka karena gerhana,
Atau usap paling menenangkan bagi angsa yang dijangkiti kecewa karena arus telaga
Perempuanku, aku gemetar mengingat suaramu yang tak lagi bisa kudengar
Memandang punggung yang perlahan menghilang
Dan rindu, telah menjadi hukuman atas dosa kecil yang hanya bisa diampuni oleh pertemuan
Memandang punggung yang perlahan menghilang
Dan rindu, telah menjadi hukuman atas dosa kecil yang hanya bisa diampuni oleh pertemuan
Seketika aku menggigil pada suhu terendah
Sementara hangatmu, layaknya punggung lembah yang disanjung ribuan kabut-kabut
Degupku parau
Diremehkan gurau angin dini hari
Diacuhkan sepi yang lebih sunyi dari denyut nadiku sendiri
Sementara hangatmu, layaknya punggung lembah yang disanjung ribuan kabut-kabut
Degupku parau
Diremehkan gurau angin dini hari
Diacuhkan sepi yang lebih sunyi dari denyut nadiku sendiri
Perihal apakah yang membuatmu setabah ini menanti?
Tanya Selasa pagi
Sebab dekapmu murni, bukan hangat buatan yang kumenangkan dari meja judi
Tanya Selasa pagi
Sebab dekapmu murni, bukan hangat buatan yang kumenangkan dari meja judi
Langganan:
Postingan (Atom)