19 Mei 2015
Kedatangan Pemilik Sore
berawal dari ambang maya di pelataran kata
kita saling membaca
lalu terjangkit kagum yang sama
tak mungkin bisa dijelaskan pandangan mata, gerak raga
bahkan guncangan debar yang menginjak rapuhnya tulang-tulang dada
dengan kekuatan hasrat yang tak kauketahui,
aku mengumpulkan ribuan senja yang ramah
sebagai kalam yang kumaharkan
untuk cahaya sore yang biasa menyentuh hijau urat pipimu
aku juga memiliki sekumpulan degup yang jujur
sudi berkarib dan sedia mengawal ke mana perginya arah jantungmu
selanjutnya, seucap doa akan kutiupkan sebelum terpejam
agar ia menyatu dengan langit-langit kamar
suhu ruangan
serta apa saja barang bisu di situ
yang lebih dulu kasmaran pada semesta tubuhmu
maka tetaplah seperti ini
ajak aku menuju kota yang tak memiliki pagi,
atau terik matahari yang seringkali menyakiti
ditenangkan merdu tembang-tembang serangga
yang menggelar pesta sambutan untuk datangnya musim penghujan
masih tersisa satu tanya
sudah berapa hati yang jatuh, sesaat setelah sepasang mata itu kaukedipkan?
kita saling membaca
lalu terjangkit kagum yang sama
tak mungkin bisa dijelaskan pandangan mata, gerak raga
bahkan guncangan debar yang menginjak rapuhnya tulang-tulang dada
dengan kekuatan hasrat yang tak kauketahui,
aku mengumpulkan ribuan senja yang ramah
sebagai kalam yang kumaharkan
untuk cahaya sore yang biasa menyentuh hijau urat pipimu
aku juga memiliki sekumpulan degup yang jujur
sudi berkarib dan sedia mengawal ke mana perginya arah jantungmu
selanjutnya, seucap doa akan kutiupkan sebelum terpejam
agar ia menyatu dengan langit-langit kamar
suhu ruangan
serta apa saja barang bisu di situ
yang lebih dulu kasmaran pada semesta tubuhmu
maka tetaplah seperti ini
ajak aku menuju kota yang tak memiliki pagi,
atau terik matahari yang seringkali menyakiti
ditenangkan merdu tembang-tembang serangga
yang menggelar pesta sambutan untuk datangnya musim penghujan
masih tersisa satu tanya
sudah berapa hati yang jatuh, sesaat setelah sepasang mata itu kaukedipkan?
9 Des 2014
Selasa Pagi
Selasa pagi pernah bertanya,
Bagaimana kabarmu?
Lembut, lamban menyerupai kepak sayap kelelawar yang berpura-pura membenci matahari
Melebihi lentur angin yang mengajari pohon-pohon menari
Bagaimana kabarmu?
Lembut, lamban menyerupai kepak sayap kelelawar yang berpura-pura membenci matahari
Melebihi lentur angin yang mengajari pohon-pohon menari
Selasa pagi juga bertanya,
Ke mana perginya pelukan yang pernah kaupuja dengan delapan ratus bahasa?
Kecup yang kaukatakan pandai menidurkan rembulan luka karena gerhana,
Atau usap paling menenangkan bagi angsa yang dijangkiti kecewa karena arus telaga
Ke mana perginya pelukan yang pernah kaupuja dengan delapan ratus bahasa?
Kecup yang kaukatakan pandai menidurkan rembulan luka karena gerhana,
Atau usap paling menenangkan bagi angsa yang dijangkiti kecewa karena arus telaga
Perempuanku, aku gemetar mengingat suaramu yang tak lagi bisa kudengar
Memandang punggung yang perlahan menghilang
Dan rindu, telah menjadi hukuman atas dosa kecil yang hanya bisa diampuni oleh pertemuan
Memandang punggung yang perlahan menghilang
Dan rindu, telah menjadi hukuman atas dosa kecil yang hanya bisa diampuni oleh pertemuan
Seketika aku menggigil pada suhu terendah
Sementara hangatmu, layaknya punggung lembah yang disanjung ribuan kabut-kabut
Degupku parau
Diremehkan gurau angin dini hari
Diacuhkan sepi yang lebih sunyi dari denyut nadiku sendiri
Sementara hangatmu, layaknya punggung lembah yang disanjung ribuan kabut-kabut
Degupku parau
Diremehkan gurau angin dini hari
Diacuhkan sepi yang lebih sunyi dari denyut nadiku sendiri
Perihal apakah yang membuatmu setabah ini menanti?
Tanya Selasa pagi
Sebab dekapmu murni, bukan hangat buatan yang kumenangkan dari meja judi
Tanya Selasa pagi
Sebab dekapmu murni, bukan hangat buatan yang kumenangkan dari meja judi
1 Des 2014
Isi Kepalamu
Kepalamu seperti laci pribadiku
Berisi arloji, kartu memori yang tak kupakai lagi, juga gunting kuku; yang hanya kugunakan sekali dalam seminggu
Kepalamu layaknya gayung di kamar mandi
Suka bergoyang dan berputar-putar, ketika dialiri air dari keran
Kepalamu serupa warna cat rumah tetangga sebelah
Selalu diganti sesuai selera setiap tahunnya
Kepalamu seperti baju buruh pabrik yang susah dicuci
Sebab noda membandel, atau kotoran lain dan sisa-sisa oli
Kepalamu layaknya kipas angin di warung kopi
Terus berputar dan menoleh ke kanan kiri meski sepi pembeli
Kepalamu serupa lampu kamar yang lupa kumatikan
Tak terlalu terang, tak jarang hanya menganggu pejam
Barangkali seperti itu, kau menebak isi kepalaku yang masih selalu berisi tentangmu
19 Okt 2014
Di Balik Dinginnya Kota Rahasia
di kota dingin ini, yang pernah kusebut beranda tangisku
mulai terlihat sulur-sulur kenangan
satu nama tiba-tiba muncul sebagai ingatan
seperti jantung, ingatan kali ini memiliki degup abadi yang dilindungi waktu
aku pernah bertanya,
di mana sebuah pagi kausembunyikan?
di sebelah dadamu?
atau di samping sepatu yang mengantar pergimu?
sementara embun datang lebih dingin dari biasanya
tak ada gigil yang perlu kucurigai
aku hanya tak bisa melipatnya
seperti ada yang tak terbiasa
peluk itu telah berlalu; pengukur suhu terbaik bagi tubuhku
pada sepasang kelingking yang pernah kita tautkan,
aku memohon agar terbiasa lagi melihat matamu
melihat aku
melihat jendela terbuka
melihat senja
melihat remang lampu kota yang mulai menyala
atau melihat apa saja yang belum pernah kautangisi sebelumnya
pada kedua peluk yang saling menghangatkan,
aku berharap agar diizinkan lagi mendamaikan gigilmu
ah, bukankah kita sudah belajar berpura-pura untuk saling melupakan?
dan kita berkaca pada sesal,
bersitatap dalam tabah,
saling mendoakan dalam gundah,
sebab kita terlanjur terlibat di sebuah keputusan yang salah
mulai terlihat sulur-sulur kenangan
satu nama tiba-tiba muncul sebagai ingatan
seperti jantung, ingatan kali ini memiliki degup abadi yang dilindungi waktu
aku pernah bertanya,
di mana sebuah pagi kausembunyikan?
di sebelah dadamu?
atau di samping sepatu yang mengantar pergimu?
sementara embun datang lebih dingin dari biasanya
tak ada gigil yang perlu kucurigai
aku hanya tak bisa melipatnya
seperti ada yang tak terbiasa
peluk itu telah berlalu; pengukur suhu terbaik bagi tubuhku
pada sepasang kelingking yang pernah kita tautkan,
aku memohon agar terbiasa lagi melihat matamu
melihat aku
melihat jendela terbuka
melihat senja
melihat remang lampu kota yang mulai menyala
atau melihat apa saja yang belum pernah kautangisi sebelumnya
pada kedua peluk yang saling menghangatkan,
aku berharap agar diizinkan lagi mendamaikan gigilmu
ah, bukankah kita sudah belajar berpura-pura untuk saling melupakan?
dan kita berkaca pada sesal,
bersitatap dalam tabah,
saling mendoakan dalam gundah,
sebab kita terlanjur terlibat di sebuah keputusan yang salah
23 Jul 2014
Senja yang Lupa Kutulis
Satu senja pernah kita habiskan dengan diam dan keadaan yang semakin mendingin. Sepasang kupu-kupu dengan sayap tua menguning, terbang menggiring kata bosan yang keluar dari bibirmu. Gerimis sore itu seperti jutaan tombak yang ingin menikam segala yang lelah di kepalaku. Hening membatu, tanpa satu pun suara yang berniat melenturkan lidah kita. Untuk mengelabuhi kecewa, di atas selembar roti aku melukis setangkai mawar dengan mentega. Kuletakkan tepat di sebelah teh wangi melati yang kau pesan dengan hati benci dan segala yang menyakiti.
Sore ini, sekeping kegagalan telah tersaji pekat di atas meja pertengkaran. Dimasak di sebuah dapur yang menyeruakkan wangi bunga-bunga setelah kau mengenal dia.
Petir di luar menyerupai suara tawa mereka yang di depannya dulu, aku pernah membanggakanmu.
Sepertinya kita butuh senja lain untuk mengumpulkan percakapan.
Satu sore saja, aku rasa tak akan cukup untuk menampung perbincangan kita yang semakin tajam dan mulai gemar saling melukai. Aku menyadari bahwa kita hanyalah sepasang permohonan yang tak pernah selesai di hadapan doa.
Sebelum kau dan aku benar-benar paham, pertemuan adalah perintah takdir untuk kita berpelukan, lalu saling tabah melepaskan. Kelak, silam juga akan mengajak kita untuk saling memunggungi. Tanpa perlu mengingat lagi, kedua dada kita pernah saling berjanji untuk mengingat sehidup hingga mati.
Ternyata benar apa yang dulu pernah aku takutkan, terutama perihal mencintai, melepaskan memang butuh rasa sakit yang lebih.
Semoga tulisan ini tak hanya berupa angin, yang membawa kabut senyummu menuju bening laut air mataku. Berbahagialah, rebahkan kekagumanmu di dadanya. Jangan lupa satu hal; datanglah kembali ke sini, jika kau butuh sesuatu yang bisa kau lukai.
Sore ini, sekeping kegagalan telah tersaji pekat di atas meja pertengkaran. Dimasak di sebuah dapur yang menyeruakkan wangi bunga-bunga setelah kau mengenal dia.
Petir di luar menyerupai suara tawa mereka yang di depannya dulu, aku pernah membanggakanmu.
Sepertinya kita butuh senja lain untuk mengumpulkan percakapan.
Satu sore saja, aku rasa tak akan cukup untuk menampung perbincangan kita yang semakin tajam dan mulai gemar saling melukai. Aku menyadari bahwa kita hanyalah sepasang permohonan yang tak pernah selesai di hadapan doa.
Sebelum kau dan aku benar-benar paham, pertemuan adalah perintah takdir untuk kita berpelukan, lalu saling tabah melepaskan. Kelak, silam juga akan mengajak kita untuk saling memunggungi. Tanpa perlu mengingat lagi, kedua dada kita pernah saling berjanji untuk mengingat sehidup hingga mati.
Ternyata benar apa yang dulu pernah aku takutkan, terutama perihal mencintai, melepaskan memang butuh rasa sakit yang lebih.
Semoga tulisan ini tak hanya berupa angin, yang membawa kabut senyummu menuju bening laut air mataku. Berbahagialah, rebahkan kekagumanmu di dadanya. Jangan lupa satu hal; datanglah kembali ke sini, jika kau butuh sesuatu yang bisa kau lukai.
17 Apr 2014
Empat Pertanyaan Menjelang Pukul Empat Pagi
Mual di perutku mulai merambat naik menuju tenggorokan. Arloji berantai hitam pemberian perempuan luar biasa yang melingkar di tangan kiriku menunjukkan pukul 03:47 Waktu Indonesia Bagian Barat. Wajar saja jika dingin embun seolah menertawakan langkahku yang sempoyongan memasuki lorong kampungku menjelang pagi itu. Sebelum akhirnya berhasil membuka pintu rumah, tiba-tiba ingatanku membentuk sebuah tongkat yang memukulkan beberapa pertanyaan di kepalaku;
• Selain penyesalan, apa lagi perihal yang menakutkan?
• Jika tak ada puisi, dengan cara apa aku bisa menyembunyikan tangis?
• Apa yang bisa kulakukan jika masa muda Griselda Blanco ingin sekali menikahiku?
• Apa jadinya jika semua orang yang kusayangi berubah menjadi gantungan kunci?
• Selain penyesalan, apa lagi perihal yang menakutkan?
• Jika tak ada puisi, dengan cara apa aku bisa menyembunyikan tangis?
• Apa yang bisa kulakukan jika masa muda Griselda Blanco ingin sekali menikahiku?
• Apa jadinya jika semua orang yang kusayangi berubah menjadi gantungan kunci?
13 Apr 2014
Luka Abadi yang Karam di Laut Puisi
Entah bagaimana persisnya
tiba-tiba aku ingin menebak
berapa banyak hangat genggaman
yang kutebar di pergelangan tanganmu.
Sebelum kau tersakiti, sebelum kau berlari pergi.
Aku pernah melupakan lapar hanya karena ingin mendengar kenyangmu.
Aku sempat mengabaikan hangat hanya karena menolak mendengar gigilmu.
Namun kau menyukai tajam,
lalu mendorongnya lembut,
mengarahkan ke seluruh denyutku.
Semena-mena kau menyeret wajah bulan yang terbiasa menerangi beranda.
Biar pudar!
Agar menyebar ke seluruh memar.
Meninggalkan aku yang dijangkiti kecewa,
lalu membiarkan perih menancap di sana.
Sepandai itukah kau melubangi urat nadiku?
Muara seluruh denyut,
yang kupakai menyelamatkanmu ketika hanyut.
Tak pernah kuucap percuma,
meski hanya mengapungkan dosa.
Entah bagaimana persisnya,
tiba-tiba aku ingin menebak
berapa kali aku menyebutmu luka abadi yang karam di laut puisi.
tiba-tiba aku ingin menebak
berapa banyak hangat genggaman
yang kutebar di pergelangan tanganmu.
Sebelum kau tersakiti, sebelum kau berlari pergi.
Aku pernah melupakan lapar hanya karena ingin mendengar kenyangmu.
Aku sempat mengabaikan hangat hanya karena menolak mendengar gigilmu.
Namun kau menyukai tajam,
lalu mendorongnya lembut,
mengarahkan ke seluruh denyutku.
Semena-mena kau menyeret wajah bulan yang terbiasa menerangi beranda.
Biar pudar!
Agar menyebar ke seluruh memar.
Meninggalkan aku yang dijangkiti kecewa,
lalu membiarkan perih menancap di sana.
Sepandai itukah kau melubangi urat nadiku?
Muara seluruh denyut,
yang kupakai menyelamatkanmu ketika hanyut.
Tak pernah kuucap percuma,
meski hanya mengapungkan dosa.
Entah bagaimana persisnya,
tiba-tiba aku ingin menebak
berapa kali aku menyebutmu luka abadi yang karam di laut puisi.
Langganan:
Postingan (Atom)