Kolaborasi puisi oleh @penagenic dan @penenun_kata
Pada kemarau ini, bulan masih mengantongi satu musim lagi
Iringan Nebula, beranjak dari ufuk dengan irama
Gerak anyelir mengobarkan angin, membentur ingatan yang retak
Tandangkan nyiur kecupan pujangga kecil di bawah pohon Oak
Mendaras tangis bagi isyarat hujan yang tak membasahi apa-apa
Guratan tintanya, ia mundurkan usia
Mengeruhkan airmata yang lebih gelap dari susunan luka
Sedetik demi sedetik, hingga ia jatuh cinta pada masa lampaunya
Katanya, "Kekasih, kepadamu malam memeluk, kepadaku gigil sepi itu mendidih".
Gema goresan kata kembali membungkam keributan angkasa
Hingga tinta emasnya patah, pujangga itu lari menuju peraduan terakhirnya
Aku berangan kita menjadi sepasang jasad yang mabuk
Mengenali bidikan Atraile, Cupid, apalah namanya engkau
Tangkai pancaroba lebih perkasa menahan kantong-kantong doa
Wahai pemilik cinta, hunuskan sekali lagi dirinya padaku
Jernihkan aku sebagai air perigi untuk membasuh lukanya yang biru
Lelapkan nadinya pada arteri jantungku
Tukarlah debar kami yang tak lagi saling mengenali
Selamanya, hingga puisi ini mati di tanganku sendiri
29 Mei 2013
26 Mei 2013
Hari Jadi Bungsu Puisi
Mey...
Beberapa jam sebelum aku terbangun,
barangkali sajak ini telah menuliskan dirinya sendiri.
Jemariku hanyalah kerani tanpa gaji,
yang bersedia menyalinnya disini.
Jika kelak kau telah menjadi yang kubayangkan dalam doaku,
tetaplah menjadi ibu lembut yang bersedia merawat puisiku.
Telah kubangun panti bagi mereka,
sebentuk keranjang beralaskan bunga,
sudi merangkum dan merekam harumnya perjalanan kita.
Seperti yang sering kau bilang,
"Tuhan itu genit"
Bisa jadi sajak ini mewakili pernyataanmu.
Kita hidup di tanah perjanjian yang berbeda,
namun masih menghirup udara dan kata-kata yang serupa.
Sejauh ini gerak jemarimu masih hening,
mungkin ia masih lelap pada perihal yang lebih penting.
Tapi satu hal yang perlu kau tahu,
wangi anggunmu masih kutunggu untuk melantik sajak-sajakku.
Beberapa jam sebelum aku terbangun,
barangkali sajak ini telah menuliskan dirinya sendiri.
Jemariku hanyalah kerani tanpa gaji,
yang bersedia menyalinnya disini.
Jika kelak kau telah menjadi yang kubayangkan dalam doaku,
tetaplah menjadi ibu lembut yang bersedia merawat puisiku.
Telah kubangun panti bagi mereka,
sebentuk keranjang beralaskan bunga,
sudi merangkum dan merekam harumnya perjalanan kita.
Seperti yang sering kau bilang,
"Tuhan itu genit"
Bisa jadi sajak ini mewakili pernyataanmu.
Kita hidup di tanah perjanjian yang berbeda,
namun masih menghirup udara dan kata-kata yang serupa.
Sejauh ini gerak jemarimu masih hening,
mungkin ia masih lelap pada perihal yang lebih penting.
Tapi satu hal yang perlu kau tahu,
wangi anggunmu masih kutunggu untuk melantik sajak-sajakku.
Selamat Ulang Tahun, Dian Meithasari...
25 Mei 2013
Monolog Menjelang Pagi
Sebelum dini hari menjadi pagi,
aku berangan mendengarkan napasmu
perempuan berjantung rembulan,
mahir menidurkan badai dengan usap tangan yang menenangkan
Sangka ini melahirkan ribuan anak danau di mataku
tempat tata surya berkaca,
menerka jumlah denyut di kedalaman duka,
mengukur ceruk luka yang semakin dalam karena kecewa
Gelap malam telah menyerupai warna bir yang kutuang
rindu menjelma degub yang meramaikan jantung serigala hutan
menuduh bibirmu sebagai korban,
sebait metafora dari kelenjar sayap yang mengajakku terbang
Ceritakan padaku,
seperih apa gerimis malam ini menjatuhi ubun-ubunmu
lebih nyeri dari jantung binatang buruan yang terpanah,
atau melebihi anyir sayatan yang dilembabkan nanah?
12 Mei 2013
Pergimu Sunyi
Segala jenis hening yang dituang malam terasa makin mengental
Semarak pujian tentang senja menjadi kabar yang lewat terdengar
Kita masih bertahan dengan peluk terpenggal
Di pelabuhan puisi ini, jelitamu tiba sebagai kapal tanpa nahkoda
Tapi pertengkaran, ialah anak ombak yang menenggelamkannya
Siulanku menjadi alunan suara yang tertiup dari bibir pendosa
Semoga di telingamu, ia sampai sebagai doa penenang usia
Ada sajak yang pernah kujadikan penutup telinga
Ketika sebuah pintu yang kau banting menjeritkan luka yang kupelihara
Lalu cahaya bulan mengering
Kau pergi mengenakan sepatu bernama waktu
Perpisahan telah menjelma badik yang menghabisi awal tahunku
Pergilah!
Barangkali di luar sana,
kau temukan peluk yang lebih tabah dari dada yang aku punya
Kau tetap menjadi pertanyaan dari kening yang kukerutkan
Kau tetap udara pengisi di pipi yang kucembungkan
Dan engkau tercipta sebagai sesuatu yang kumiliki, namun menolak kupahami
Seharusnya, kamu bisa hidup bahagia dengan ribuan senyuman di satu ruang
Seharusnya pula, ruangan itu adalah ingatanku
19 Apr 2013
Malam Sedang Hujan, Naylie
Malam sedang hujan, Naylie. Kali ini, bibirku menjadikan punggungmu sebuah sekoci yang mengantar kuplet untuk udara yang sakit. Mengabaikan gelombang jahat yang digaduhkan petir, juga gigil. Jangan tergesa membalikkan badan, anganku belum tuntas berlayar. Angan yang berisi pikiran janggal, bahwa dari punggung itu akan tumbuh sepasang sayap. Mengepakkan wangi ribuan kata yang kau curi dari sajak-sajakku yang belum sempat kau baca. Lalu kau akan begitu saja terbang, pergi, mengabaikan apa yang napasku hembuskan dan nadiku denyutkan.
Jika pikiranku sudah mencapai tengkukmu, ada teduh yang tak pernah selesai. Gerak lamban daun-daun nyiur, menyiulkan suara ratusan dewa yang sedang menidurkan rembulan luka karena gerhana. Di situ, ada udara yang tak cukup digambarkan dengan kata sejuk. Wangi paling taman, tempat dimana ribuan sajak dimekarkan.
Lalu lenganmu, tempat dadaku bermain untuk mengelabuhi dingin. Pengukur suhu terbaik ketika tubuhku mulai didemamkan rindu. Kadang, aku ingin membangun istana ciuman di sana, lalu memahatkan beberapa haiku di sebuah prasasti rahasia yang mengelilinginya.
Ketika kubayangkan tubuhmu telanjang, Naylie, ada ranum yang selalu merayu gerak mataku agar berhenti di payudaramu. Darah yang mengalir lebih deras dari sebelumnya, ketika telapak tanganku mulai berkhayal untuk menyentuhnya. Aku menemukan jutaan musim dari bentuk tubuhmu. Tak hanya hujan, juga tak hanya salju. Angin yang tiba-tiba terpejam, terik yang kadang menghajar, juga bintang-bintang palsu yang memegahkan semesta kulitmu.
Ajak aku menua bersama usiamu.
Jika pikiranku sudah mencapai tengkukmu, ada teduh yang tak pernah selesai. Gerak lamban daun-daun nyiur, menyiulkan suara ratusan dewa yang sedang menidurkan rembulan luka karena gerhana. Di situ, ada udara yang tak cukup digambarkan dengan kata sejuk. Wangi paling taman, tempat dimana ribuan sajak dimekarkan.
Lalu lenganmu, tempat dadaku bermain untuk mengelabuhi dingin. Pengukur suhu terbaik ketika tubuhku mulai didemamkan rindu. Kadang, aku ingin membangun istana ciuman di sana, lalu memahatkan beberapa haiku di sebuah prasasti rahasia yang mengelilinginya.
Ketika kubayangkan tubuhmu telanjang, Naylie, ada ranum yang selalu merayu gerak mataku agar berhenti di payudaramu. Darah yang mengalir lebih deras dari sebelumnya, ketika telapak tanganku mulai berkhayal untuk menyentuhnya. Aku menemukan jutaan musim dari bentuk tubuhmu. Tak hanya hujan, juga tak hanya salju. Angin yang tiba-tiba terpejam, terik yang kadang menghajar, juga bintang-bintang palsu yang memegahkan semesta kulitmu.
Ajak aku menua bersama usiamu.
25 Mar 2013
Sekali Lagi
kau kirim lagi sebuah tanda
meleleh lalu menggarisbawahi puisiku
serupa tanda tangan yang disetujui alir darahmu
kau kirim lagi sebuah aroma
aroma keringat lelah dari kekalahan
meruapkan cerita senja yang kita racuni dengan pertengkaran
kau kirim lagi sebuah cahaya
santun menyelinap dari tingkap mimpi yang selalu kubuka
mengubah cacat purnama yang dilukai gerhana
meleleh lalu menggarisbawahi puisiku
serupa tanda tangan yang disetujui alir darahmu
kau kirim lagi sebuah aroma
aroma keringat lelah dari kekalahan
meruapkan cerita senja yang kita racuni dengan pertengkaran
kau kirim lagi sebuah cahaya
santun menyelinap dari tingkap mimpi yang selalu kubuka
mengubah cacat purnama yang dilukai gerhana
19 Mar 2013
Jejakmu di Halaman Berpasir
apa yang diharumkan hujan ini, Carine?
di halaman berpasir, jejakmu biru
samar keluar dari rahim persembunyian,
menjejakkan cerita yang kau hirup dari angin kayangan
almanak kembali berpeluh
tanpa kita, penanggalan hanyalah lembar maya yang lebih basah dari airmata
hingga kita menyerah ditelan dongeng-dongeng asing
lalu melangkah meninggalkan rumah puisi yang ditegarkan angin
mimpi menjadi penguasa di kepalamu
matamu menjadi benih bagi puisiku
ketika sebuah luka menegur ingatan
aku paham,
engkau adalah alasan kenapa malam menjadi lebih cemerlang
engkau lebih hidup dari puisiku
hiduplah!
lebih hidup dari jemari yang mengusap embun di kaca jendelaku
akan tiba saatnya,
kita dihidupi pelukan dengan debar yang jujur di sekelilingnya
begitulah aku mengagumi semestamu
tempat kau menyembunyikan pecahan-pecahan langit
mendung yang mengisi rongga indera
juga wangi ribuan bunga di taman raksasa
di halaman berpasir, jejakmu biru
samar keluar dari rahim persembunyian,
menjejakkan cerita yang kau hirup dari angin kayangan
almanak kembali berpeluh
tanpa kita, penanggalan hanyalah lembar maya yang lebih basah dari airmata
hingga kita menyerah ditelan dongeng-dongeng asing
lalu melangkah meninggalkan rumah puisi yang ditegarkan angin
mimpi menjadi penguasa di kepalamu
matamu menjadi benih bagi puisiku
ketika sebuah luka menegur ingatan
aku paham,
engkau adalah alasan kenapa malam menjadi lebih cemerlang
engkau lebih hidup dari puisiku
hiduplah!
lebih hidup dari jemari yang mengusap embun di kaca jendelaku
akan tiba saatnya,
kita dihidupi pelukan dengan debar yang jujur di sekelilingnya
begitulah aku mengagumi semestamu
tempat kau menyembunyikan pecahan-pecahan langit
mendung yang mengisi rongga indera
juga wangi ribuan bunga di taman raksasa
Langganan:
Postingan (Atom)