sebelum beberapa kata ini kuketik, setengah jam yang lalu aku mengecupmu
ucapan "Selamat Ulang Tahun" tadi hanyalah caraku mencuri beberapa kata dari tubuhmu
karena sesungguhnya puisi ini ditulis sendiri oleh aortamu yang kerap menghubungi pikiranku
kedipanmu;
keajaiban terbaik yang dihadiahkan Tuhan
kubayangkan barisan tirai yang dibuka bidadari di pagi hari
mengirim sejuk bagi jantungku
dimana aku mulai percaya bahwa ada senjata yang kedap suara
dan satu-satunya mata yang lumpuh karena itu, ialah mataku
matamu;
sepasang musim yang bergerak seirama
ada hujan, salju dan dingin-dingin berbentuk lain
taman yang beraroma seribu bunga
titik kumpul kata-kata
yang tak pernah bisa kubaca dengan sekali eja
atau bisa saja,
rembulan besar yang lebih puitik dari purnama
alismu;
lengkung sabit maha tajam
tempat kesedihan dimakamkan dan bahagia dimekarkan
ketika keduanya kau angkat
aku bisa merasa bagaimana jika bumi berhenti tiba-tiba
Kuanggap kedua alis itu adalah tangan langit
yang sesekali mengulur genit
bertugas meremas cemas yang memanjang tanpa batas
rambutmu;
warna hitam rambutmu yang membuatku paham
bahwa warna kesedihan tak jauh beda dengan malam
tiap helainya adalah rajutan sejuta cemeti tanpa ruas
yang mencambuk dendam, melukai muram
payung bagi segala kenang di ruang ingatan
mengusap tangisan yang melebihi batas wajar
keningmu;
beberapa tanya terjebak saat ia kau kerutkan
kanvas lapang tempat kecupanku kau sembunyikan
pengantar doa yang lembut sebelum ia menyentuh lantai sujud
benteng maya yang kupercaya untuk menghindari maut
hatimu;
ini yang terakhir
ah, aku tak berani menuliskan hatimu
kupasrahkan kepada Tuhan saja untuk mengasuhnya
sebab disitu, tempat kutaruh harap agar hidup terus kau pelihara
13 Des 2012
11 Des 2012
Nubuat Dari Saku Langit
Caramu meremas hujan kusaksikan dalam kehangatan
gerakan lincah yang kerap mengagalkan kesedihan
menyuap satu persatu anak rindu dengan senyummu
hingga debar yang kurahasiakan,
bisa kau redam dengan sekali sentuhan
Anggap saja puisiku ini belum jadi
maaf, jika aku kurang bisa memahami cuaca dengan jeli
sebab, keterlambatan hujan juga menjadi alasan diri
kenapa bahasaku semakin gigil memeluk sunyi
Rampaslah kanvas langit yang masih kalis akan hujan, Sayang
lukiskan jejak bidadari yang kau sembunyikan
agar mendung lebih cepat menyerah kepada terang
lalu goreskan warna pelangi yang kedelapan
hingga janjiku bisa sesegar taman yang baru dipugar
Izinkan sekali lagi
kuhirup wangi perakmu yang pernah dikagumi matahari
hingga dendam semakin cepat beruban
meninggalkan kepala dengan menempuh langkah paling diam
disamarkan lirikmu yang hening
diriuhkan tawamu sebelum langit mengering
Nubuat ini kuanggap samudera
yang meniupkan tasbih-tasbih doa
hingga menjadi ombak sederhana yang memperpanjang usia
berhenti di pesisir waktu
untuk menghela napas baru atau sekedar melunakkan rindu
Engkaulah keheningan yang meramaikan malam
pesolek rahasia bagi langit yang membutuhkan bintang
menyanggupi tanpa janji
pemberani yang pantang sembunyi
dan betapapun aku dungu menata abjad
ada kesanggupan untuk mencintaimu kuat-kuat
gerakan lincah yang kerap mengagalkan kesedihan
menyuap satu persatu anak rindu dengan senyummu
hingga debar yang kurahasiakan,
bisa kau redam dengan sekali sentuhan
Anggap saja puisiku ini belum jadi
maaf, jika aku kurang bisa memahami cuaca dengan jeli
sebab, keterlambatan hujan juga menjadi alasan diri
kenapa bahasaku semakin gigil memeluk sunyi
Rampaslah kanvas langit yang masih kalis akan hujan, Sayang
lukiskan jejak bidadari yang kau sembunyikan
agar mendung lebih cepat menyerah kepada terang
lalu goreskan warna pelangi yang kedelapan
hingga janjiku bisa sesegar taman yang baru dipugar
Izinkan sekali lagi
kuhirup wangi perakmu yang pernah dikagumi matahari
hingga dendam semakin cepat beruban
meninggalkan kepala dengan menempuh langkah paling diam
disamarkan lirikmu yang hening
diriuhkan tawamu sebelum langit mengering
Nubuat ini kuanggap samudera
yang meniupkan tasbih-tasbih doa
hingga menjadi ombak sederhana yang memperpanjang usia
berhenti di pesisir waktu
untuk menghela napas baru atau sekedar melunakkan rindu
Engkaulah keheningan yang meramaikan malam
pesolek rahasia bagi langit yang membutuhkan bintang
menyanggupi tanpa janji
pemberani yang pantang sembunyi
dan betapapun aku dungu menata abjad
ada kesanggupan untuk mencintaimu kuat-kuat
30 Nov 2012
Pesta Penutup November
Kuundang beberapa tanggal yang sedang murung. Kupikir, pesta kecil ini cukuplah untuk menghargai perannya memutar jarum detik menjadi menit, lalu menjadi jam, hingga hari ini bisa bernama waktu. Menempuh beberapa cerita yang belum pernah aku reka sebelumnya. "Apakah kau juga akan mengundang rindu?" seorang sahabat dari kota kenangan bertanya. Ya, tentunya aku mengundang rindu. Paling tidak, ia bisa membacakan satu judul puisi, atau hanya sekedar meramaikan halusinasi.
Para dewa dan beberapa kerabat kayangan memilih sibuk menata bangku, meja dan beberapa botol wine yang kusadap dari ladang birahiku sendiri. Seingatku, ladang itu begitu subur diguyur kekaguman-kekaguman pasca aku menemukanmu. Daun-daun harapannya merindang, getah kebahagiaannya pun lancar. Putih, bening melebihi air telaga. Seperti mata Ibu, lebih tepatnya. Dibawah pengaruhnya, aku pernah mabuk bahasa dan memuntahkan seribu lima ratus sajak sekaligus. Peningnya di kepala begitu terasa, persis baling-baling kapal yang tak pernah tahu tujuan nahkoda.
Malam semakin keriput, namun kita masih larut. Gelegar suara disana-sini begitu meriah. Petir dan guntur memang begitu mengagumkan untuk urusan suara dan ledakan. Tak seberapa sulit untuk meminta bantuannya, karena kebetulan, ada salah satu teman yang berteman baik dengan mendung. Ya, hujan. Sayang dia tak bisa menghadiri undanganku malam ini. Namun tadi pagi, dia datang sebentar untuk mengantar setumpuk dingin di pelataran. Meninggalkan kado istimewa di ceruk-ceruk tanah yang berbau basah. Ah, sudahlah, hadir atau tak hadir, hujan tetap sahabat baik bagi langit.
Kita hanyut dalam gempita. Di atas panggung, kelebat lembut selendang bidadari menarikan gerakan surga diiringi purnama. Pantas saja jika malam ini begitu wangi. Di sana-sini, berserakan senyum yang jatuh dari bibir bintang yang berciuman dengan rasi. Dipunguti pemulung-pemulung jarak yang terbiasa patah hati. Sesekali, satu diantara mereka kuajak naik diatas panggung. Berdansa dengan gerakan liar dengan musik halilintar. Mereka juga berhak merasakan tepuk tangan yang meriah dari pertemuan. Agar disaat hujan, senja dan pagi datang, mereka tak terlalu meratap mengemis cium dan pelukan.
Rangkaian pesta ditutup oleh gelap. Sepertinya ia lebih paham, mata kita butuh terpejam. "Saya ucapkan terimakasih banyak buat semuanya, karena telah memberi saya waktu terbaik untuk jatuh cinta" Karena lelah, tak lagi kuhiraukan pagi yang sedang menyiapkan cahaya. Harusnya kuucap terimakasih juga kepadanya, karena pagi yang tekun menuntun satu persatu tamu undangan untuk pulang.
Para dewa dan beberapa kerabat kayangan memilih sibuk menata bangku, meja dan beberapa botol wine yang kusadap dari ladang birahiku sendiri. Seingatku, ladang itu begitu subur diguyur kekaguman-kekaguman pasca aku menemukanmu. Daun-daun harapannya merindang, getah kebahagiaannya pun lancar. Putih, bening melebihi air telaga. Seperti mata Ibu, lebih tepatnya. Dibawah pengaruhnya, aku pernah mabuk bahasa dan memuntahkan seribu lima ratus sajak sekaligus. Peningnya di kepala begitu terasa, persis baling-baling kapal yang tak pernah tahu tujuan nahkoda.
Malam semakin keriput, namun kita masih larut. Gelegar suara disana-sini begitu meriah. Petir dan guntur memang begitu mengagumkan untuk urusan suara dan ledakan. Tak seberapa sulit untuk meminta bantuannya, karena kebetulan, ada salah satu teman yang berteman baik dengan mendung. Ya, hujan. Sayang dia tak bisa menghadiri undanganku malam ini. Namun tadi pagi, dia datang sebentar untuk mengantar setumpuk dingin di pelataran. Meninggalkan kado istimewa di ceruk-ceruk tanah yang berbau basah. Ah, sudahlah, hadir atau tak hadir, hujan tetap sahabat baik bagi langit.
Kita hanyut dalam gempita. Di atas panggung, kelebat lembut selendang bidadari menarikan gerakan surga diiringi purnama. Pantas saja jika malam ini begitu wangi. Di sana-sini, berserakan senyum yang jatuh dari bibir bintang yang berciuman dengan rasi. Dipunguti pemulung-pemulung jarak yang terbiasa patah hati. Sesekali, satu diantara mereka kuajak naik diatas panggung. Berdansa dengan gerakan liar dengan musik halilintar. Mereka juga berhak merasakan tepuk tangan yang meriah dari pertemuan. Agar disaat hujan, senja dan pagi datang, mereka tak terlalu meratap mengemis cium dan pelukan.
Rangkaian pesta ditutup oleh gelap. Sepertinya ia lebih paham, mata kita butuh terpejam. "Saya ucapkan terimakasih banyak buat semuanya, karena telah memberi saya waktu terbaik untuk jatuh cinta" Karena lelah, tak lagi kuhiraukan pagi yang sedang menyiapkan cahaya. Harusnya kuucap terimakasih juga kepadanya, karena pagi yang tekun menuntun satu persatu tamu undangan untuk pulang.
17 Nov 2012
Empat Tahun Satu Pelangi
Menjelang empat tahun engkau menemaniku...
Carine, dari gerak jelitamu aku hendak menulis satu judul madah yang tak begitu luar biasa. Yang bisa dibaca embun hingga menjadi gembur atau setidaknya mampu membuat terik siang tak lagi berseteru dengan hujan. Retak bibir keringku yang terkadang perih memohon untuk berteduh di bagian terpencil bulu matamu. Rimbun akasia baru yang diciptakan senyummu, kerap sengaja kuseberangi dan kuasah tajam sebagai penggunting mimpi. Tepat di sebelah lesung pipimu, aku menyembunyikan bening rindu dari pecahan-pecahan alasan kenapa aku begitu mencintai seseorang yang melahirkanmu.
Carine, dari kecupan perak yang diajarkan para dewa, bibirku mendaratkan kecup di keningmu yang seumpama salju. Menyampaikan rahasia yang kurekam dari bisik-bisik kerabat kayangan, bahwa selain pengantar bahagia, tugasmu hanya di surga. Tak perlu kau genapi rintik hujan yang dijatuhkan sepagi ini, apalagi dengan airmata. Kedipanmu saja sudah cukup mengeringkan kata-kata lembab yang terlalu lama disimpan cuaca. Bersama usia, buatlah kalimat yang lebih jelas. Tanyakan apa saja. Darimana asal terang yang dipancarkan api atau dimana rembulan bersembunyi saat siang hari. Semua jawaban ada di matamu.
Carine, dalam lelapmu yang menenteramkan aku selalu ingin meloncat delapan jam kedepan. Untuk menyaksikan lagi tarian-tarian pagimu yang suci, bahkan gerakan yang belum sempat dihafalkan bidadari. Menjejakkan tulang muda, menyamai cahaya yang terbit dari kemaluan langit. Bagai pengemis yang menemukan harta karun, juga bagai air yang menemukan sumur, aku puja gerakan cahaya yang kau pentaskan dengan anggun. Sempat kuhitung satu persatu bintang yang terjatuh tadi malam. Kutaburkan di bawah guling yang kau peluk ketika pagi masih berlutut. Menyisakan gemerencing lucu, persis menyerupai suaramu ketika teringat waktu terbaik untuk minum susu.
Carine, dari gerak jelitamu aku hendak menulis satu judul madah yang tak begitu luar biasa. Yang bisa dibaca embun hingga menjadi gembur atau setidaknya mampu membuat terik siang tak lagi berseteru dengan hujan. Retak bibir keringku yang terkadang perih memohon untuk berteduh di bagian terpencil bulu matamu. Rimbun akasia baru yang diciptakan senyummu, kerap sengaja kuseberangi dan kuasah tajam sebagai penggunting mimpi. Tepat di sebelah lesung pipimu, aku menyembunyikan bening rindu dari pecahan-pecahan alasan kenapa aku begitu mencintai seseorang yang melahirkanmu.
Carine, dari kecupan perak yang diajarkan para dewa, bibirku mendaratkan kecup di keningmu yang seumpama salju. Menyampaikan rahasia yang kurekam dari bisik-bisik kerabat kayangan, bahwa selain pengantar bahagia, tugasmu hanya di surga. Tak perlu kau genapi rintik hujan yang dijatuhkan sepagi ini, apalagi dengan airmata. Kedipanmu saja sudah cukup mengeringkan kata-kata lembab yang terlalu lama disimpan cuaca. Bersama usia, buatlah kalimat yang lebih jelas. Tanyakan apa saja. Darimana asal terang yang dipancarkan api atau dimana rembulan bersembunyi saat siang hari. Semua jawaban ada di matamu.
Carine, dalam lelapmu yang menenteramkan aku selalu ingin meloncat delapan jam kedepan. Untuk menyaksikan lagi tarian-tarian pagimu yang suci, bahkan gerakan yang belum sempat dihafalkan bidadari. Menjejakkan tulang muda, menyamai cahaya yang terbit dari kemaluan langit. Bagai pengemis yang menemukan harta karun, juga bagai air yang menemukan sumur, aku puja gerakan cahaya yang kau pentaskan dengan anggun. Sempat kuhitung satu persatu bintang yang terjatuh tadi malam. Kutaburkan di bawah guling yang kau peluk ketika pagi masih berlutut. Menyisakan gemerencing lucu, persis menyerupai suaramu ketika teringat waktu terbaik untuk minum susu.
11 Nov 2012
Keajaiban Ini, Ingin Kuulangi
Sebelum akhirnya aku memutuskan
untuk benar-benar menggilaimu
jelita anggun pengisi dada
yang kupuja setara semesta
Esok
pagi akan mengintipmu
barangkali sebelum aku terbangun
kenali dia
lebih akrab lagi
tanyakan pada dia
bagaimana pagiku sebelum menemukanmu
Jika sudah kau kantongi jawaban
bangunkan aku
aku ingin melihat rona pipimu
yang memerah bercampur embun
tentu saja dingin itu yang menyihir mimpiku
agar pulang membawa kecupan
atau kembali menceritakan cinta
yang kau bilang tanpa alasan
Karena
memilikimu ialah cara terbaik menyerah pada nasib
tentang kemungkinan
kebahagiaan
hal-hal baru yang mengenalkan aku pada senyuman
juga separuh takdir
yang kau bilang tak baik jika kulalui sendirian
Bagaimana cara kita kembali pada esok?
tanyamu
tenang
masih ada siang, Sayang
tempat sembunyi para kelelawar dan peri
yang hanya mengedarkan wangi dimalam hari
juga pertandingan cahaya
akan dipentaskan oleh senja
lincah meramu warna jingga
seperti ciumanku
yang sesekali kudaratkan didadamu
Ketika malam mengganti peran
hisapan jagad untuk cahaya
embun perlahan dicipta
ada juga bintang
rembulan
keduanya selalu tertata rapi diatas langit
seperti wajahmu
rapi menyimpan segala duka
prasangka tentang aku
atau bahkan perihal tak terduga
sebelum kita dipertemukan dan disatukan
Pejamlah kita pada bahagia
melupakan esok yang belum tentu semestinya
istirahatkan raga
agar lelah menyerah
pasrah
lalu kalah
pada tubuh yang rebah
menginjakkan kaki mimpi
untuk caci maki
iri
dengki
juga benci
saling memeluk dan mengulang esok lagi
saling mencintai
dengan cara yang lebih baik lagi
untuk benar-benar menggilaimu
jelita anggun pengisi dada
yang kupuja setara semesta
Esok
pagi akan mengintipmu
barangkali sebelum aku terbangun
kenali dia
lebih akrab lagi
tanyakan pada dia
bagaimana pagiku sebelum menemukanmu
Jika sudah kau kantongi jawaban
bangunkan aku
aku ingin melihat rona pipimu
yang memerah bercampur embun
tentu saja dingin itu yang menyihir mimpiku
agar pulang membawa kecupan
atau kembali menceritakan cinta
yang kau bilang tanpa alasan
Karena
memilikimu ialah cara terbaik menyerah pada nasib
tentang kemungkinan
kebahagiaan
hal-hal baru yang mengenalkan aku pada senyuman
juga separuh takdir
yang kau bilang tak baik jika kulalui sendirian
Bagaimana cara kita kembali pada esok?
tanyamu
tenang
masih ada siang, Sayang
tempat sembunyi para kelelawar dan peri
yang hanya mengedarkan wangi dimalam hari
juga pertandingan cahaya
akan dipentaskan oleh senja
lincah meramu warna jingga
seperti ciumanku
yang sesekali kudaratkan didadamu
Ketika malam mengganti peran
hisapan jagad untuk cahaya
embun perlahan dicipta
ada juga bintang
rembulan
keduanya selalu tertata rapi diatas langit
seperti wajahmu
rapi menyimpan segala duka
prasangka tentang aku
atau bahkan perihal tak terduga
sebelum kita dipertemukan dan disatukan
Pejamlah kita pada bahagia
melupakan esok yang belum tentu semestinya
istirahatkan raga
agar lelah menyerah
pasrah
lalu kalah
pada tubuh yang rebah
menginjakkan kaki mimpi
untuk caci maki
iri
dengki
juga benci
saling memeluk dan mengulang esok lagi
saling mencintai
dengan cara yang lebih baik lagi
27 Okt 2012
Jarak Antara Senyummu dan Kebahagiaanku
Masihkah kau tersenyum di tempat itu, Sayang?
Tempat dimana kita mengawali pertemuan
Mengukur diameter bulan dengan berbagai ciuman
Di sebuah taman rahasia, ciuman itu sempat menjadikan kita
sepasang birahi yang melanggar perbatasan dosa
Hingga kini,
Aku masih menghitung jarak antara senyummu itu dan kebahagiaanku
Begitu tipis,
Setipis dinding balon sabun yang kau mainkan semasa kanak dulu
Di kotaku ini, malam hampir buta
Sunyi mulai dipetakan gelap
Suara serangga sedang riuh membacakan puisimu dengan bahasa mereka
Terbahak menertawakan pertemuan tatap kita yang dipastikan tertunda
Juga maut, meloncat lebih dekat dari apa yang kita namai gelap dalam pejam
Kau kabarkan kotamu sedang gerimis
Dengarkan dengan seksama
Ada rintih rinduku yang semakin dingin mencampuri derasnya
Masih ada sisa waktu buatku
Sebelum Subuh, tak ada salahnya jika kulamunkan lagi senyummu
Untuk malam ini saja
Sebagai tambahan penyangga bahu sunyi yang renta
Rinduku juga rindumu
Mereka kelak akan menjadi perih yang mengingatkan
Bahwa jarak adalah tajam belati paling ramah saat menikam
Dengan jarak ini, mari kita selesaikan kesedihan
Senantiasalah tersenyum di kotamu, dan aku akan bahagia di kotaku
Sebab membahagiakanmu, adalah kewajiban yang tak bisa aku wakilkan
Tempat dimana kita mengawali pertemuan
Mengukur diameter bulan dengan berbagai ciuman
Di sebuah taman rahasia, ciuman itu sempat menjadikan kita
sepasang birahi yang melanggar perbatasan dosa
Hingga kini,
Aku masih menghitung jarak antara senyummu itu dan kebahagiaanku
Begitu tipis,
Setipis dinding balon sabun yang kau mainkan semasa kanak dulu
Di kotaku ini, malam hampir buta
Sunyi mulai dipetakan gelap
Suara serangga sedang riuh membacakan puisimu dengan bahasa mereka
Terbahak menertawakan pertemuan tatap kita yang dipastikan tertunda
Juga maut, meloncat lebih dekat dari apa yang kita namai gelap dalam pejam
Kau kabarkan kotamu sedang gerimis
Dengarkan dengan seksama
Ada rintih rinduku yang semakin dingin mencampuri derasnya
Masih ada sisa waktu buatku
Sebelum Subuh, tak ada salahnya jika kulamunkan lagi senyummu
Untuk malam ini saja
Sebagai tambahan penyangga bahu sunyi yang renta
Rinduku juga rindumu
Mereka kelak akan menjadi perih yang mengingatkan
Bahwa jarak adalah tajam belati paling ramah saat menikam
Dengan jarak ini, mari kita selesaikan kesedihan
Senantiasalah tersenyum di kotamu, dan aku akan bahagia di kotaku
Sebab membahagiakanmu, adalah kewajiban yang tak bisa aku wakilkan
16 Okt 2012
Kabarmu dari Sebuah Musim
Aku melibatkan diri ketika senyummu berniat mengecup bulan
Mencuri beberapa kabar yang layak dicemburui bintang
Masih bolehkah kita bertahan mengelabuhi kebahagiaan?
Di dada kita, ada nyala api yang bersikukuh membakar hujan
Tak jua paham bahwa kita hanyalah sepasang hati
Yang lahir dari rahim paling sunyi
Tertinggal diantara ilalang kemustahilan
Diasuh diamnya kata-kata termahal
Lembaran musim membuat langit menyerah
Mencatat embun yang sesekali berputar arah
Matahari siang, gagah menolak karam
Sedangkan kita, gemar tenggelam di telaga kata yang disaring hujan
Dengan jemari buta, taburkan aku sebagai serbuk yang mencampuri darahmu
Hilangku akan kuberi judul larut paling bahagia asal tak mengganggu
Teriakan hening menantang bertarung melawan detik
Suaranya menyerupai desahan waktu yang diwakili jarum panjang
Dua belas angkanya menghitung ulang sebuah kepergian
Sementara kepalaku masih sibuk merayu
Keteduhan yang mengekor pada bulu-bulu matamu
Kedipannya menyamai bayangan anak panah menuju jantungku
Jika boleh kupinta, jangan menyikiti degub selanjutnya
Seperti pagi dan embun yang saling menghangatkan diri
Begitulah seharusnya ingatan dan kenangan saling menghargai
Mencuri beberapa kabar yang layak dicemburui bintang
Masih bolehkah kita bertahan mengelabuhi kebahagiaan?
Di dada kita, ada nyala api yang bersikukuh membakar hujan
Tak jua paham bahwa kita hanyalah sepasang hati
Yang lahir dari rahim paling sunyi
Tertinggal diantara ilalang kemustahilan
Diasuh diamnya kata-kata termahal
Lembaran musim membuat langit menyerah
Mencatat embun yang sesekali berputar arah
Matahari siang, gagah menolak karam
Sedangkan kita, gemar tenggelam di telaga kata yang disaring hujan
Dengan jemari buta, taburkan aku sebagai serbuk yang mencampuri darahmu
Hilangku akan kuberi judul larut paling bahagia asal tak mengganggu
Teriakan hening menantang bertarung melawan detik
Suaranya menyerupai desahan waktu yang diwakili jarum panjang
Dua belas angkanya menghitung ulang sebuah kepergian
Sementara kepalaku masih sibuk merayu
Keteduhan yang mengekor pada bulu-bulu matamu
Kedipannya menyamai bayangan anak panah menuju jantungku
Jika boleh kupinta, jangan menyikiti degub selanjutnya
Seperti pagi dan embun yang saling menghangatkan diri
Begitulah seharusnya ingatan dan kenangan saling menghargai
Langganan:
Postingan (Atom)