Masihkah kau tersenyum di tempat itu, Sayang?
Tempat dimana kita mengawali pertemuan
Mengukur diameter bulan dengan berbagai ciuman
Di sebuah taman rahasia, ciuman itu sempat menjadikan kita
sepasang birahi yang melanggar perbatasan dosa
Hingga kini,
Aku masih menghitung jarak antara senyummu itu dan kebahagiaanku
Begitu tipis,
Setipis dinding balon sabun yang kau mainkan semasa kanak dulu
Di kotaku ini, malam hampir buta
Sunyi mulai dipetakan gelap
Suara serangga sedang riuh membacakan puisimu dengan bahasa mereka
Terbahak menertawakan pertemuan tatap kita yang dipastikan tertunda
Juga maut, meloncat lebih dekat dari apa yang kita namai gelap dalam pejam
Kau kabarkan kotamu sedang gerimis
Dengarkan dengan seksama
Ada rintih rinduku yang semakin dingin mencampuri derasnya
Masih ada sisa waktu buatku
Sebelum Subuh, tak ada salahnya jika kulamunkan lagi senyummu
Untuk malam ini saja
Sebagai tambahan penyangga bahu sunyi yang renta
Rinduku juga rindumu
Mereka kelak akan menjadi perih yang mengingatkan
Bahwa jarak adalah tajam belati paling ramah saat menikam
Dengan jarak ini, mari kita selesaikan kesedihan
Senantiasalah tersenyum di kotamu, dan aku akan bahagia di kotaku
Sebab membahagiakanmu, adalah kewajiban yang tak bisa aku wakilkan
27 Okt 2012
16 Okt 2012
Kabarmu dari Sebuah Musim
Aku melibatkan diri ketika senyummu berniat mengecup bulan
Mencuri beberapa kabar yang layak dicemburui bintang
Masih bolehkah kita bertahan mengelabuhi kebahagiaan?
Di dada kita, ada nyala api yang bersikukuh membakar hujan
Tak jua paham bahwa kita hanyalah sepasang hati
Yang lahir dari rahim paling sunyi
Tertinggal diantara ilalang kemustahilan
Diasuh diamnya kata-kata termahal
Lembaran musim membuat langit menyerah
Mencatat embun yang sesekali berputar arah
Matahari siang, gagah menolak karam
Sedangkan kita, gemar tenggelam di telaga kata yang disaring hujan
Dengan jemari buta, taburkan aku sebagai serbuk yang mencampuri darahmu
Hilangku akan kuberi judul larut paling bahagia asal tak mengganggu
Teriakan hening menantang bertarung melawan detik
Suaranya menyerupai desahan waktu yang diwakili jarum panjang
Dua belas angkanya menghitung ulang sebuah kepergian
Sementara kepalaku masih sibuk merayu
Keteduhan yang mengekor pada bulu-bulu matamu
Kedipannya menyamai bayangan anak panah menuju jantungku
Jika boleh kupinta, jangan menyikiti degub selanjutnya
Seperti pagi dan embun yang saling menghangatkan diri
Begitulah seharusnya ingatan dan kenangan saling menghargai
Mencuri beberapa kabar yang layak dicemburui bintang
Masih bolehkah kita bertahan mengelabuhi kebahagiaan?
Di dada kita, ada nyala api yang bersikukuh membakar hujan
Tak jua paham bahwa kita hanyalah sepasang hati
Yang lahir dari rahim paling sunyi
Tertinggal diantara ilalang kemustahilan
Diasuh diamnya kata-kata termahal
Lembaran musim membuat langit menyerah
Mencatat embun yang sesekali berputar arah
Matahari siang, gagah menolak karam
Sedangkan kita, gemar tenggelam di telaga kata yang disaring hujan
Dengan jemari buta, taburkan aku sebagai serbuk yang mencampuri darahmu
Hilangku akan kuberi judul larut paling bahagia asal tak mengganggu
Teriakan hening menantang bertarung melawan detik
Suaranya menyerupai desahan waktu yang diwakili jarum panjang
Dua belas angkanya menghitung ulang sebuah kepergian
Sementara kepalaku masih sibuk merayu
Keteduhan yang mengekor pada bulu-bulu matamu
Kedipannya menyamai bayangan anak panah menuju jantungku
Jika boleh kupinta, jangan menyikiti degub selanjutnya
Seperti pagi dan embun yang saling menghangatkan diri
Begitulah seharusnya ingatan dan kenangan saling menghargai
8 Okt 2012
Kekaguman yang Didengar Hujan
Sediam apapun jarak, aku masih mengajakmu menidurkan bulan
Mengulang kebiasaan lamaku
Meniup senja yang menyelinap di matamu
Membersihkan warnanya yang tercecer di keningmu dengan bibirku
Kerap kau katakan
Adegan itu adalah kecupan rahasia yang diajarkan para dewa
Perihal apa yang bisa menjinakkan kekagumanku, Dinda?
Ditubuhku, engkau masih udara yang belum dihisap napas
Desir yang belum ditangkap darah
Juga degub yang belum ditemukan jantung
Dan hanya di bibirmu
Tersimpan senyuman yang tak pernah bisa aku taklukkan
Jika memang esok pagi hujan
Akulah gerimis awal yang ingin tunduk di wajahmu
Warna lain yang menggantikan bedak dan gincumu
Menjelma bening yang mencatat kedipan pertamamu
Agar kau tak lagi mendengar gumam mendung yang menyesal
Sebab lupa mewakili aku memasuki mimpimu
Mengguyurkan kekaguman dalam bentuk hujan
Dan bila engkau masih kuanggap api
Jangan kau bilang ketabahanku seperti kayu, Sayang
Kepada langit, selalu kau pulangkan aku sebagai asap
Kau serupakan aku baling-baling kapal yang menyakiti alur laut
Sedang pelukanmu
Kepal tangan nahkoda yang membabibuta
Sekali lagi aku ingin engkau tahu
Didadaku, masih ada debar ketabahan yang mengkhawatirkanmu
Mengulang kebiasaan lamaku
Meniup senja yang menyelinap di matamu
Membersihkan warnanya yang tercecer di keningmu dengan bibirku
Kerap kau katakan
Adegan itu adalah kecupan rahasia yang diajarkan para dewa
Perihal apa yang bisa menjinakkan kekagumanku, Dinda?
Ditubuhku, engkau masih udara yang belum dihisap napas
Desir yang belum ditangkap darah
Juga degub yang belum ditemukan jantung
Dan hanya di bibirmu
Tersimpan senyuman yang tak pernah bisa aku taklukkan
Jika memang esok pagi hujan
Akulah gerimis awal yang ingin tunduk di wajahmu
Warna lain yang menggantikan bedak dan gincumu
Menjelma bening yang mencatat kedipan pertamamu
Agar kau tak lagi mendengar gumam mendung yang menyesal
Sebab lupa mewakili aku memasuki mimpimu
Mengguyurkan kekaguman dalam bentuk hujan
Dan bila engkau masih kuanggap api
Jangan kau bilang ketabahanku seperti kayu, Sayang
Kepada langit, selalu kau pulangkan aku sebagai asap
Kau serupakan aku baling-baling kapal yang menyakiti alur laut
Sedang pelukanmu
Kepal tangan nahkoda yang membabibuta
Sekali lagi aku ingin engkau tahu
Didadaku, masih ada debar ketabahan yang mengkhawatirkanmu
18 Sep 2012
Cukup Tubuhmu Saja
bulan hampir selesai merias diri
menunggu cemburu yang akan dimakamkan sunyi
sungkawa musim terasa lekat ditiup angin
menginjak doa rumput-rumput yang melambaikan dingin
dalam kembara kataku, ada sajak yang pucat menghitam
mengangankan suara aliran sungai yang jernih tanpa cemar
warna putih langit mewakili purnama
menceritakan tahana bidadari yang selayaknya dipuja
seperti bekas luka dipunggungmu, Sayang
masalalu tak seharusnya kau tunjukan pada siapa
cukup ragamu saja yang boleh menerka
tak kuikhlaskan tubuhmu susut diremas usia
di pembaringan para malaikat, langit mulai padam
isyarat jahat yang memaksa ingatanku untuk segera pulang
sementara jantungku masih biru
lebam melemah dihardik tangismu sore tadi
sebagiannya tak lagi berdegub
hanya bersuara seadanya
sekedar pengganti sunyi dalam dada
menunggu cemburu yang akan dimakamkan sunyi
sungkawa musim terasa lekat ditiup angin
menginjak doa rumput-rumput yang melambaikan dingin
dalam kembara kataku, ada sajak yang pucat menghitam
mengangankan suara aliran sungai yang jernih tanpa cemar
warna putih langit mewakili purnama
menceritakan tahana bidadari yang selayaknya dipuja
seperti bekas luka dipunggungmu, Sayang
masalalu tak seharusnya kau tunjukan pada siapa
cukup ragamu saja yang boleh menerka
tak kuikhlaskan tubuhmu susut diremas usia
di pembaringan para malaikat, langit mulai padam
isyarat jahat yang memaksa ingatanku untuk segera pulang
sementara jantungku masih biru
lebam melemah dihardik tangismu sore tadi
sebagiannya tak lagi berdegub
hanya bersuara seadanya
sekedar pengganti sunyi dalam dada
13 Sep 2012
Wangimu Dicampuri Pagi
Pagi yang sebaik ini
Kubayangkan engkau adalah embun penguasa kedinginan
Biadab menyiksa warna bunga dengan gigil yang tak lagi tertahan
Kabut ringan menuntun tegas aroma bahagia
Mencampuri wangi bangkai kenangan yang sempat kita rayakan berdua
Satu dua hari kedepan, kau dan aku masih sama
Dungu dan belajar bijak memahami majas tentang cinta
Menjadi si buta yang keras kepala
Meraba-raba dimana pintu kemungkinan itu berada
Merangkai rayuan menjadi bisikan manja
Berharap cumbu akan melahap kita menuju surga
Sudah lebih dari seratus musim
Pemandangan pagi tetaplah sama
Diantara jeda cahaya
Ramai khalayak tak pernah gentar memecah sinarnya
Aku terbangun ditelanjangi pagi yang masih belia
Dalam lelapku
Kubiarkan mimpi mencuri apa saja
Termasuk nyeri luka yang masih terbuka
Wangimu itu aroma badai!
Pernah melemparku ke tepi waktu yang bernama silam
Terdampar mengumpulkan tanda tanya yang dirawat airmata linang
Jangan dulu tersenyum di depanku!
Berilah waktu pada kebahagiaan untuk mengenaliku dengan caranya sendiri
Karena aku masih sanggup berdarah
Jika merahnya mampu menyihir warnamu menjadi megah
Sesekali, berbaringlah di dadaku, Sayang
Kau tahu, dalam debarku ada semacam sanggar
yang kubangun dari keringat kekaguman
Lalu cium bibirku sekali lagi
Aku mulai mengerti, bibirmu adalah ruang sunyi
Tempat para bidadari menyembunyikan mimpi
Kubayangkan engkau adalah embun penguasa kedinginan
Biadab menyiksa warna bunga dengan gigil yang tak lagi tertahan
Kabut ringan menuntun tegas aroma bahagia
Mencampuri wangi bangkai kenangan yang sempat kita rayakan berdua
Satu dua hari kedepan, kau dan aku masih sama
Dungu dan belajar bijak memahami majas tentang cinta
Menjadi si buta yang keras kepala
Meraba-raba dimana pintu kemungkinan itu berada
Merangkai rayuan menjadi bisikan manja
Berharap cumbu akan melahap kita menuju surga
Sudah lebih dari seratus musim
Pemandangan pagi tetaplah sama
Diantara jeda cahaya
Ramai khalayak tak pernah gentar memecah sinarnya
Aku terbangun ditelanjangi pagi yang masih belia
Dalam lelapku
Kubiarkan mimpi mencuri apa saja
Termasuk nyeri luka yang masih terbuka
Wangimu itu aroma badai!
Pernah melemparku ke tepi waktu yang bernama silam
Terdampar mengumpulkan tanda tanya yang dirawat airmata linang
Jangan dulu tersenyum di depanku!
Berilah waktu pada kebahagiaan untuk mengenaliku dengan caranya sendiri
Karena aku masih sanggup berdarah
Jika merahnya mampu menyihir warnamu menjadi megah
Sesekali, berbaringlah di dadaku, Sayang
Kau tahu, dalam debarku ada semacam sanggar
yang kubangun dari keringat kekaguman
Lalu cium bibirku sekali lagi
Aku mulai mengerti, bibirmu adalah ruang sunyi
Tempat para bidadari menyembunyikan mimpi
Tersenyum di depanmu kujadikan cara untuk berkata;
"Jatuh cinta adalah rasa jenaka yang diambil dari bahasa para dewa"
6 Sep 2012
Dari Ujung Terima Kasihku
Musim semi masih jauh bersembunyi di akhir tahun
Pasca persetubuhan senja kita sepakat kembali ke ujung
Belajar dari retas kupu-kupu yang urung
Pada ratusan kisah yang gagal kita rangkum
Kau namai aku penjaga kantuk yang baru terbangun
Pengais cahaya yang menggeliat dari langit timur
Membakar silam rahasiamu yang mulai berjamur
Tentang nafasmu yang kerap kuhirup dan hembuskan
Kumohon, tolong lupakan!
Di hadapmu, akulah pemimpi yang berkhayal menemukan fajar
Sepanjang perjalanan menempuh bimbangmu,
aku menjadi penguasa tamak yang tak peduli apa saja
Bahkan, airmatamu yang tak setara jika kutulis dengan majas dan bahasa
Diamku adalah pilihan
Satu cara terbaik agar engkau bisa mengumpulkan resah
Lalu menuliskanku dalam puisi yang dipenuhi metafora basah
Sekumpulan airmata, debar, sunyi juga nyeri yang tak menemu jumlah
Agar kelak engkau bisa menceritakan
Bagaimana warna negeri kayangan yang kau sadap dari para bintang
Karena melupakanmu; masih menjadi kebohongan yang aku rencanakan
Pasca persetubuhan senja kita sepakat kembali ke ujung
Belajar dari retas kupu-kupu yang urung
Pada ratusan kisah yang gagal kita rangkum
Kau namai aku penjaga kantuk yang baru terbangun
Pengais cahaya yang menggeliat dari langit timur
Membakar silam rahasiamu yang mulai berjamur
Tentang nafasmu yang kerap kuhirup dan hembuskan
Kumohon, tolong lupakan!
Di hadapmu, akulah pemimpi yang berkhayal menemukan fajar
Sepanjang perjalanan menempuh bimbangmu,
aku menjadi penguasa tamak yang tak peduli apa saja
Bahkan, airmatamu yang tak setara jika kutulis dengan majas dan bahasa
Diamku adalah pilihan
Satu cara terbaik agar engkau bisa mengumpulkan resah
Lalu menuliskanku dalam puisi yang dipenuhi metafora basah
Sekumpulan airmata, debar, sunyi juga nyeri yang tak menemu jumlah
Agar kelak engkau bisa menceritakan
Bagaimana warna negeri kayangan yang kau sadap dari para bintang
Karena melupakanmu; masih menjadi kebohongan yang aku rencanakan
28 Agu 2012
Suaramu, Ajakan yang Begitu Merdu
Ledaklah suara, ledaklah rasa
Khidmat teriak merdu di surga telinga
Ramaikan bait dengan nada
Metafora sederhana ketukan luar biasa
Teriakkan teriakku
Membelah setandan dentam dalam bisingmu
Tajam pisauku tenggelam di alir selokanmu
Hingga terjebak di jembatan kayu
Lantunkan lagi lagu matahari
Sarat pantulan terik bertubi-tubi
Acuhkan para bunga yang luka dikupas benci
Melanggar markah yang digaris pasti
Aku juga kurang tahu tulisan ini bertema apa, siapapun yang membaca bebas mengartikannya. Kalau aku bertanya pada pikiranku, tulisan ini semacam pujian, caraku sendiri mengungkapkan kekaguman pada sebuah band jadul, yang kasetnya saya temukan beberapa hari lalu di kotak pribadi Almarhum Kakak. Flower, dengan hits nya "Tolong Bu Dokter". Menurutku ini tepat, beberapa hari lagi Rn'R Nite akan digelar di kotaku. Aku dan beberapa teman terundang untuk meramaikan. Akankah kami meramaikannya dengan lagu ini? Permintaanku pada Tuhan semoga saja didengar, semoga...
Dengan berjalannya proses, lagu ini sudah ribuan kali aku dengarkan, dan entahlah, aku belum menemukan kata bosan. Sepertinya Tuhan sengaja menyusun kejadian ini khusus buat aku. Sambil mengenang Alm. Kakak yang addict terhadap Rock n' Roll, ditunggu event besar yang menghargai keberadaanku dan teman-teman, dan tentunya pembelajaran terhadap tempo dan sound gahar yang tak pernah aku jamah sebelumnya. Buat The Flower, "Still Alive & Well" yah..., seperti album kedua kalian.
Khidmat teriak merdu di surga telinga
Ramaikan bait dengan nada
Metafora sederhana ketukan luar biasa
Teriakkan teriakku
Membelah setandan dentam dalam bisingmu
Tajam pisauku tenggelam di alir selokanmu
Hingga terjebak di jembatan kayu
Lantunkan lagi lagu matahari
Sarat pantulan terik bertubi-tubi
Acuhkan para bunga yang luka dikupas benci
Melanggar markah yang digaris pasti
********
Aku juga kurang tahu tulisan ini bertema apa, siapapun yang membaca bebas mengartikannya. Kalau aku bertanya pada pikiranku, tulisan ini semacam pujian, caraku sendiri mengungkapkan kekaguman pada sebuah band jadul, yang kasetnya saya temukan beberapa hari lalu di kotak pribadi Almarhum Kakak. Flower, dengan hits nya "Tolong Bu Dokter". Menurutku ini tepat, beberapa hari lagi Rn'R Nite akan digelar di kotaku. Aku dan beberapa teman terundang untuk meramaikan. Akankah kami meramaikannya dengan lagu ini? Permintaanku pada Tuhan semoga saja didengar, semoga...
Dengan berjalannya proses, lagu ini sudah ribuan kali aku dengarkan, dan entahlah, aku belum menemukan kata bosan. Sepertinya Tuhan sengaja menyusun kejadian ini khusus buat aku. Sambil mengenang Alm. Kakak yang addict terhadap Rock n' Roll, ditunggu event besar yang menghargai keberadaanku dan teman-teman, dan tentunya pembelajaran terhadap tempo dan sound gahar yang tak pernah aku jamah sebelumnya. Buat The Flower, "Still Alive & Well" yah..., seperti album kedua kalian.
Langganan:
Postingan (Atom)