bulan hampir selesai merias diri
menunggu cemburu yang akan dimakamkan sunyi
sungkawa musim terasa lekat ditiup angin
menginjak doa rumput-rumput yang melambaikan dingin
dalam kembara kataku, ada sajak yang pucat menghitam
mengangankan suara aliran sungai yang jernih tanpa cemar
warna putih langit mewakili purnama
menceritakan tahana bidadari yang selayaknya dipuja
seperti bekas luka dipunggungmu, Sayang
masalalu tak seharusnya kau tunjukan pada siapa
cukup ragamu saja yang boleh menerka
tak kuikhlaskan tubuhmu susut diremas usia
di pembaringan para malaikat, langit mulai padam
isyarat jahat yang memaksa ingatanku untuk segera pulang
sementara jantungku masih biru
lebam melemah dihardik tangismu sore tadi
sebagiannya tak lagi berdegub
hanya bersuara seadanya
sekedar pengganti sunyi dalam dada
18 Sep 2012
13 Sep 2012
Wangimu Dicampuri Pagi
Pagi yang sebaik ini
Kubayangkan engkau adalah embun penguasa kedinginan
Biadab menyiksa warna bunga dengan gigil yang tak lagi tertahan
Kabut ringan menuntun tegas aroma bahagia
Mencampuri wangi bangkai kenangan yang sempat kita rayakan berdua
Satu dua hari kedepan, kau dan aku masih sama
Dungu dan belajar bijak memahami majas tentang cinta
Menjadi si buta yang keras kepala
Meraba-raba dimana pintu kemungkinan itu berada
Merangkai rayuan menjadi bisikan manja
Berharap cumbu akan melahap kita menuju surga
Sudah lebih dari seratus musim
Pemandangan pagi tetaplah sama
Diantara jeda cahaya
Ramai khalayak tak pernah gentar memecah sinarnya
Aku terbangun ditelanjangi pagi yang masih belia
Dalam lelapku
Kubiarkan mimpi mencuri apa saja
Termasuk nyeri luka yang masih terbuka
Wangimu itu aroma badai!
Pernah melemparku ke tepi waktu yang bernama silam
Terdampar mengumpulkan tanda tanya yang dirawat airmata linang
Jangan dulu tersenyum di depanku!
Berilah waktu pada kebahagiaan untuk mengenaliku dengan caranya sendiri
Karena aku masih sanggup berdarah
Jika merahnya mampu menyihir warnamu menjadi megah
Sesekali, berbaringlah di dadaku, Sayang
Kau tahu, dalam debarku ada semacam sanggar
yang kubangun dari keringat kekaguman
Lalu cium bibirku sekali lagi
Aku mulai mengerti, bibirmu adalah ruang sunyi
Tempat para bidadari menyembunyikan mimpi
Kubayangkan engkau adalah embun penguasa kedinginan
Biadab menyiksa warna bunga dengan gigil yang tak lagi tertahan
Kabut ringan menuntun tegas aroma bahagia
Mencampuri wangi bangkai kenangan yang sempat kita rayakan berdua
Satu dua hari kedepan, kau dan aku masih sama
Dungu dan belajar bijak memahami majas tentang cinta
Menjadi si buta yang keras kepala
Meraba-raba dimana pintu kemungkinan itu berada
Merangkai rayuan menjadi bisikan manja
Berharap cumbu akan melahap kita menuju surga
Sudah lebih dari seratus musim
Pemandangan pagi tetaplah sama
Diantara jeda cahaya
Ramai khalayak tak pernah gentar memecah sinarnya
Aku terbangun ditelanjangi pagi yang masih belia
Dalam lelapku
Kubiarkan mimpi mencuri apa saja
Termasuk nyeri luka yang masih terbuka
Wangimu itu aroma badai!
Pernah melemparku ke tepi waktu yang bernama silam
Terdampar mengumpulkan tanda tanya yang dirawat airmata linang
Jangan dulu tersenyum di depanku!
Berilah waktu pada kebahagiaan untuk mengenaliku dengan caranya sendiri
Karena aku masih sanggup berdarah
Jika merahnya mampu menyihir warnamu menjadi megah
Sesekali, berbaringlah di dadaku, Sayang
Kau tahu, dalam debarku ada semacam sanggar
yang kubangun dari keringat kekaguman
Lalu cium bibirku sekali lagi
Aku mulai mengerti, bibirmu adalah ruang sunyi
Tempat para bidadari menyembunyikan mimpi
Tersenyum di depanmu kujadikan cara untuk berkata;
"Jatuh cinta adalah rasa jenaka yang diambil dari bahasa para dewa"
6 Sep 2012
Dari Ujung Terima Kasihku
Musim semi masih jauh bersembunyi di akhir tahun
Pasca persetubuhan senja kita sepakat kembali ke ujung
Belajar dari retas kupu-kupu yang urung
Pada ratusan kisah yang gagal kita rangkum
Kau namai aku penjaga kantuk yang baru terbangun
Pengais cahaya yang menggeliat dari langit timur
Membakar silam rahasiamu yang mulai berjamur
Tentang nafasmu yang kerap kuhirup dan hembuskan
Kumohon, tolong lupakan!
Di hadapmu, akulah pemimpi yang berkhayal menemukan fajar
Sepanjang perjalanan menempuh bimbangmu,
aku menjadi penguasa tamak yang tak peduli apa saja
Bahkan, airmatamu yang tak setara jika kutulis dengan majas dan bahasa
Diamku adalah pilihan
Satu cara terbaik agar engkau bisa mengumpulkan resah
Lalu menuliskanku dalam puisi yang dipenuhi metafora basah
Sekumpulan airmata, debar, sunyi juga nyeri yang tak menemu jumlah
Agar kelak engkau bisa menceritakan
Bagaimana warna negeri kayangan yang kau sadap dari para bintang
Karena melupakanmu; masih menjadi kebohongan yang aku rencanakan
Pasca persetubuhan senja kita sepakat kembali ke ujung
Belajar dari retas kupu-kupu yang urung
Pada ratusan kisah yang gagal kita rangkum
Kau namai aku penjaga kantuk yang baru terbangun
Pengais cahaya yang menggeliat dari langit timur
Membakar silam rahasiamu yang mulai berjamur
Tentang nafasmu yang kerap kuhirup dan hembuskan
Kumohon, tolong lupakan!
Di hadapmu, akulah pemimpi yang berkhayal menemukan fajar
Sepanjang perjalanan menempuh bimbangmu,
aku menjadi penguasa tamak yang tak peduli apa saja
Bahkan, airmatamu yang tak setara jika kutulis dengan majas dan bahasa
Diamku adalah pilihan
Satu cara terbaik agar engkau bisa mengumpulkan resah
Lalu menuliskanku dalam puisi yang dipenuhi metafora basah
Sekumpulan airmata, debar, sunyi juga nyeri yang tak menemu jumlah
Agar kelak engkau bisa menceritakan
Bagaimana warna negeri kayangan yang kau sadap dari para bintang
Karena melupakanmu; masih menjadi kebohongan yang aku rencanakan
28 Agu 2012
Suaramu, Ajakan yang Begitu Merdu
Ledaklah suara, ledaklah rasa
Khidmat teriak merdu di surga telinga
Ramaikan bait dengan nada
Metafora sederhana ketukan luar biasa
Teriakkan teriakku
Membelah setandan dentam dalam bisingmu
Tajam pisauku tenggelam di alir selokanmu
Hingga terjebak di jembatan kayu
Lantunkan lagi lagu matahari
Sarat pantulan terik bertubi-tubi
Acuhkan para bunga yang luka dikupas benci
Melanggar markah yang digaris pasti
Aku juga kurang tahu tulisan ini bertema apa, siapapun yang membaca bebas mengartikannya. Kalau aku bertanya pada pikiranku, tulisan ini semacam pujian, caraku sendiri mengungkapkan kekaguman pada sebuah band jadul, yang kasetnya saya temukan beberapa hari lalu di kotak pribadi Almarhum Kakak. Flower, dengan hits nya "Tolong Bu Dokter". Menurutku ini tepat, beberapa hari lagi Rn'R Nite akan digelar di kotaku. Aku dan beberapa teman terundang untuk meramaikan. Akankah kami meramaikannya dengan lagu ini? Permintaanku pada Tuhan semoga saja didengar, semoga...
Dengan berjalannya proses, lagu ini sudah ribuan kali aku dengarkan, dan entahlah, aku belum menemukan kata bosan. Sepertinya Tuhan sengaja menyusun kejadian ini khusus buat aku. Sambil mengenang Alm. Kakak yang addict terhadap Rock n' Roll, ditunggu event besar yang menghargai keberadaanku dan teman-teman, dan tentunya pembelajaran terhadap tempo dan sound gahar yang tak pernah aku jamah sebelumnya. Buat The Flower, "Still Alive & Well" yah..., seperti album kedua kalian.
Khidmat teriak merdu di surga telinga
Ramaikan bait dengan nada
Metafora sederhana ketukan luar biasa
Teriakkan teriakku
Membelah setandan dentam dalam bisingmu
Tajam pisauku tenggelam di alir selokanmu
Hingga terjebak di jembatan kayu
Lantunkan lagi lagu matahari
Sarat pantulan terik bertubi-tubi
Acuhkan para bunga yang luka dikupas benci
Melanggar markah yang digaris pasti
********
Aku juga kurang tahu tulisan ini bertema apa, siapapun yang membaca bebas mengartikannya. Kalau aku bertanya pada pikiranku, tulisan ini semacam pujian, caraku sendiri mengungkapkan kekaguman pada sebuah band jadul, yang kasetnya saya temukan beberapa hari lalu di kotak pribadi Almarhum Kakak. Flower, dengan hits nya "Tolong Bu Dokter". Menurutku ini tepat, beberapa hari lagi Rn'R Nite akan digelar di kotaku. Aku dan beberapa teman terundang untuk meramaikan. Akankah kami meramaikannya dengan lagu ini? Permintaanku pada Tuhan semoga saja didengar, semoga...
Dengan berjalannya proses, lagu ini sudah ribuan kali aku dengarkan, dan entahlah, aku belum menemukan kata bosan. Sepertinya Tuhan sengaja menyusun kejadian ini khusus buat aku. Sambil mengenang Alm. Kakak yang addict terhadap Rock n' Roll, ditunggu event besar yang menghargai keberadaanku dan teman-teman, dan tentunya pembelajaran terhadap tempo dan sound gahar yang tak pernah aku jamah sebelumnya. Buat The Flower, "Still Alive & Well" yah..., seperti album kedua kalian.
Doa untuk Takdir Kedua
Jika saja takdir mengijinkan kita menukar tubuh
Kau bisa membaca apa yang aku baca,
begitu juga sebaliknya
Mungkin, bening luka ini lebih mudah kau gunakan untuk bercermin
Apa yang kutenun dari gelisah yang tekun
Merindukanmu pasti,
menjadi judul utama setiap mimpi
Nyeri yang sengaja aku bangun sebagai tempat sembunyi
Darimu, mungkin juga dari ketiadaanku
Perkasaku berubah ketakutan
Patuh, tunduk pada kubang lesung pipimu
yang pernah menenggelamkan surga
Keringatku dikeringkan angin pantainya
Pada hari keberapa aku bisa memastikan kesembuhanmu?
Pada hitungan keberapa aku bisa menemukan jumlah bahagiamu?
Pada bentang jarak keberapa aku bisa meniup lukamu?
Jika semesta bisu akan rebahmu,
anggap saja itu tugasku!
Menjaga perihnya agar tak begitu terasa?
Pinta saja!
Jangan seadanya! Secukupnya lebih sempurna
Sedang pintaku, sederhana
Buatkan aku beberapa kata-kata saja
Kujadikan alasan utama kenapa aku jatuh cinta
Sebab, menurutku adalah dusta,
jika sederhanamu tak mengandung Surga
Menebak kecantikan senja nanti?
Mudah saja, Dinda!
Aku melihatmu berhenti memeluk kesakitanmu
Kurang lebih seperti itu
Kelak ketika aku menemukan pelukmu,
kau tahu arti hangat itu?
Itulah suhu tubuhku yang tak pernah merasa selesai membahagiakanmu
Kau bisa membaca apa yang aku baca,
begitu juga sebaliknya
Mungkin, bening luka ini lebih mudah kau gunakan untuk bercermin
Apa yang kutenun dari gelisah yang tekun
Merindukanmu pasti,
menjadi judul utama setiap mimpi
Nyeri yang sengaja aku bangun sebagai tempat sembunyi
Darimu, mungkin juga dari ketiadaanku
Perkasaku berubah ketakutan
Patuh, tunduk pada kubang lesung pipimu
yang pernah menenggelamkan surga
Keringatku dikeringkan angin pantainya
Pada hari keberapa aku bisa memastikan kesembuhanmu?
Pada hitungan keberapa aku bisa menemukan jumlah bahagiamu?
Pada bentang jarak keberapa aku bisa meniup lukamu?
Jika semesta bisu akan rebahmu,
anggap saja itu tugasku!
Menjaga perihnya agar tak begitu terasa?
Pinta saja!
Jangan seadanya! Secukupnya lebih sempurna
Sedang pintaku, sederhana
Buatkan aku beberapa kata-kata saja
Kujadikan alasan utama kenapa aku jatuh cinta
Sebab, menurutku adalah dusta,
jika sederhanamu tak mengandung Surga
Menebak kecantikan senja nanti?
Mudah saja, Dinda!
Aku melihatmu berhenti memeluk kesakitanmu
Kurang lebih seperti itu
Kelak ketika aku menemukan pelukmu,
kau tahu arti hangat itu?
Itulah suhu tubuhku yang tak pernah merasa selesai membahagiakanmu
Sebidang Sapa Untukmu
Bahasamu; hujan yang membasahi gurun gersang
Kincir yang berhenti dibalut sarang laba-laba
Rumput yang pucat terinjak cahaya
Beberapa bangkai semut mengambang di tepi telaga
Bisu mengumbar keadaan yang hanya diam
Pahit aroma sunyi menyiangi mimpi
Belum ada yang berani mati di tanah ini
Lidahmu; ujung senapan yang hanya memberi dua pilihan
Meninggalkan atau aku tinggalkan
Aku belum bisa memilih keduanya
Meski aku tertuduh sebagai seorang yang menghamili pikiranmu
Cobalah sesekali menyeberang kesini, ke dadaku
Singgahi debar pemuja taatmu
Yang tak mengenal ampun membenahi takdir dengan tekun
Bibirmu; sekeranjang melati yang bersanggul api
Panas pedas yang disamarkan wangi
Seekor kumbang menjerit dari kedalaman lumpur
Berusaha naik ke permukaan
Meniriskan sayap yang mengepakkan kekhawatiran
Memandang nanar petani jalang yang mencengkeram tangkaimu
Mengusirku terbang menuju kekalahan yang kau siapkan
Kincir yang berhenti dibalut sarang laba-laba
Rumput yang pucat terinjak cahaya
Beberapa bangkai semut mengambang di tepi telaga
Bisu mengumbar keadaan yang hanya diam
Pahit aroma sunyi menyiangi mimpi
Belum ada yang berani mati di tanah ini
Lidahmu; ujung senapan yang hanya memberi dua pilihan
Meninggalkan atau aku tinggalkan
Aku belum bisa memilih keduanya
Meski aku tertuduh sebagai seorang yang menghamili pikiranmu
Cobalah sesekali menyeberang kesini, ke dadaku
Singgahi debar pemuja taatmu
Yang tak mengenal ampun membenahi takdir dengan tekun
Bibirmu; sekeranjang melati yang bersanggul api
Panas pedas yang disamarkan wangi
Seekor kumbang menjerit dari kedalaman lumpur
Berusaha naik ke permukaan
Meniriskan sayap yang mengepakkan kekhawatiran
Memandang nanar petani jalang yang mencengkeram tangkaimu
Mengusirku terbang menuju kekalahan yang kau siapkan
9 Agu 2012
Bukan Bebanmu, Eitha
Di lantai 14 sebuah apartemen ini aku sendirian. Dari kejauhan, bulan tampak gemetar. Dengan keberanian tinggi, anak-anak cahayanya memasuki ruanganku tanpa permisi. Membaca jelas bayangku yang tanggal diantara sofa berwarna cokelat muda. Jemariku sibuk dengan telepon genggam yang batterynya sudah menyalakan warna kuning. Hening. Hanya suara detik arlojiku yang tergeletak di atas meja kecil sedang berkejaran dengan degub jantungku. Tepat di sebelahnya, sebungkus rokok dan secangkir kopi terlihat begitu akrab. Membicarakan hari pinangan, atau hanya menunggu bibirku menyatukan keduanya secara bergantian. Kurasa ini waktu yang tepat. Sebentar lagi sunyi akan mengantarmu kesini. Kita berunding tentang hal-hal kecil. Tentang rindu, tentang diameter bumi yang semakin memanjang jika dibicarakan, tentang liang birahimu yang pernah kuraba dengan gelisah, atau tentang ciuman ungu yang pernah aku tinggalkan di dadamu; di sebelah kanan tujuh, sebelah kiri satu. Sebelah kiri satu? Karena aku ingin bekas bibirku menceritakan bagaimana gemuruh surga itu jika kudengarkan. Ya, debarmu.
Separuh langit kering berwarna tembaga. Di bawah sana, lampu-lampu mobil mewah semakin ramai. Menutupi keriput kulit malam yang pekat dipendar nafsu terik matahari setiap hari. Bunyi klakson terdengar renyah memanggil kemacetan kota. Setengah jam aku memandang ke bawah dari balik jendela. Suara pintu diketuk menghardik telinga. Aku buka pintu dengan senyum paling nista yang aku miliki. Di matamu, hanya itu yang aku punya. "Eitha, malam ini kamu terlihat manis sekali..." gumamku dalam hati. Eitha masih berdiri di depan pintu dengan jaket warna biru yang sengaja tak dikancingkan. Bercelana jeans dan kaos ketat warna putih, cukup menggemaskan membungkus perawakannya yang tak begitu tinggi. Imut, lucu, sederhana dan sedap dipandang. Tas yang tergantung di bahu sebelah kirinya segera aku selamatkan agar mengurangi beban. Senyumnya mengembang, menolehkan sebelah pipi dengan gerakan manja. Ciuman dari bibirku pun mendarat di pipinya, mengabarkan rindu yang sudah hampir tiga minggu kukantongi di saku kemeja.
"Aku langsung tidur yah? Capek." Kata Eitha sambil melepas jaket yang ia kenakan. Menggambarkan mood yang lagi kurang enak untuk diajak ngobrol.
"Oke, kalo kamu capek istirahat aja" Jawabku sedikit kecewa. Beberapa menit kita terdiam.
"Sebenarnya ada beberapa hal yang ingin aku ceritakan ke kamu, mengenai kejadian beberapa hari ini." Kataku lirih, sedikit lebih keras dari suara detik jam dinding.
"Cerita aja, aku dengerin kok..." Jawab Eitha sambil merebah, tak sedikitpun melihat wajahku.
"Gak perlu lah, kamu sedang capek, moodmu lagi kurang bagus, nanti jatuhnya salah paham lagi..." Sekedar penetral suasana saja dari aku. Tanpa jawaban, dan sekali lagi wajah Eitha masih mengarah ke tembok sebelah tempat tidur. Perlahan aku belai rambut Eitha yang tergerai di atas bantal. Kuharap wanginya bersedia memenuhi tiap sela jemariku.
"Kamu gak pengen berhenti? Sampai kapan kita seperti ini? Kamu sudah beristri, kamu gak kasihan sama istri kamu? Jujur, ini sangat-sangat bertentangan dengan prinsipku. Kita udahan yah? Plis..." Dengan nada datar Eitha melontarkan beberapa pertanyaan dan permintaan yang masih sama seperti hari-hari sebelumnya. Tapi kali ini beda, kita saling menatap dalam-dalam, mata kita bertemu dalam ruang ketaktermungkinan.
"Memang siapa aja yang tahu tentang statusku? Teman kampusmu, orang tuamu, atau semua orang? Nggak ada kan?! Di duniamu, yang tahu tentang statusku cuman kamu, Eitha. Lebih sakit mana, kalo dulu aku berbohong tentang statusku, lalu kita jadian, di tengah jalan tiba-tiba kamu tahu tentang statusku. Lagian, emang selama ini kita ngapain? Selingkuh? Menurutku sih enggak! Kalo tujuanku cuman selingkuh, gak mungkin aku selingkuhin mahasiswi seperti kamu. Mending aku selingkuh sama janda kaya. Materi berlimpah, nafsu, dan segalanya terpenuhi. Sudahlah, kamu konsentrasi saja sama kuliahmu, kejar terus cita-citamu. Jangan kamu terlalu memikirkan Istriku. Aku sudah memenuhi bahagianya, dalam bentuk apapun! Dia juga tidak merasa terganggu dengan kedatanganmu! Aku sendiri juga tidak tahu, Eitha, kenapa Tuhan memberiku rasa yang seperti ini? Dan kenapa rasa ini harus jatuh ke kamu? Sepanjang usia pernikahanku, sama sekali aku belum pernah merasakan ini sebelumnya. Meskipun, beberapa perempuan pernah mencoba datang dan mendekat. Plis, Eitha, aku gak ingin membatasi kamu. Kalo kamu ingin berpacaran dengan cowok lain, silakan! Siapapun itu jika kamu anggap pantas. Aku hanya ingin menjadi seseorang yang berada tepat di belakang kamu. Melindungimu, membantu apapun yang kamu butuh, hingga kamu bisa menyelesaikan cita-citamu, semuanya. Itu aja! Kelak, jika kamu menikah dengan lelaki pilihanmu, paling tidak kamu bisa mengingat bahwa pernah ada aku di hari-harimu dulu. Mencintai bukan berarti memiliki, itu benar, Eitha, dan saat ini aku sedang merasakannya, kepadamu..."
Dan penjelasanku yang panjang lebar itu mengantar kita pada kantuk yang luar biasa. Sepakat, malam itu pula kita tertidur di ranjang dan di kota masing-masing. Sebab semua ini hanya fiksimimpi.
Separuh langit kering berwarna tembaga. Di bawah sana, lampu-lampu mobil mewah semakin ramai. Menutupi keriput kulit malam yang pekat dipendar nafsu terik matahari setiap hari. Bunyi klakson terdengar renyah memanggil kemacetan kota. Setengah jam aku memandang ke bawah dari balik jendela. Suara pintu diketuk menghardik telinga. Aku buka pintu dengan senyum paling nista yang aku miliki. Di matamu, hanya itu yang aku punya. "Eitha, malam ini kamu terlihat manis sekali..." gumamku dalam hati. Eitha masih berdiri di depan pintu dengan jaket warna biru yang sengaja tak dikancingkan. Bercelana jeans dan kaos ketat warna putih, cukup menggemaskan membungkus perawakannya yang tak begitu tinggi. Imut, lucu, sederhana dan sedap dipandang. Tas yang tergantung di bahu sebelah kirinya segera aku selamatkan agar mengurangi beban. Senyumnya mengembang, menolehkan sebelah pipi dengan gerakan manja. Ciuman dari bibirku pun mendarat di pipinya, mengabarkan rindu yang sudah hampir tiga minggu kukantongi di saku kemeja.
"Aku langsung tidur yah? Capek." Kata Eitha sambil melepas jaket yang ia kenakan. Menggambarkan mood yang lagi kurang enak untuk diajak ngobrol.
"Oke, kalo kamu capek istirahat aja" Jawabku sedikit kecewa. Beberapa menit kita terdiam.
"Sebenarnya ada beberapa hal yang ingin aku ceritakan ke kamu, mengenai kejadian beberapa hari ini." Kataku lirih, sedikit lebih keras dari suara detik jam dinding.
"Cerita aja, aku dengerin kok..." Jawab Eitha sambil merebah, tak sedikitpun melihat wajahku.
"Gak perlu lah, kamu sedang capek, moodmu lagi kurang bagus, nanti jatuhnya salah paham lagi..." Sekedar penetral suasana saja dari aku. Tanpa jawaban, dan sekali lagi wajah Eitha masih mengarah ke tembok sebelah tempat tidur. Perlahan aku belai rambut Eitha yang tergerai di atas bantal. Kuharap wanginya bersedia memenuhi tiap sela jemariku.
"Kamu gak pengen berhenti? Sampai kapan kita seperti ini? Kamu sudah beristri, kamu gak kasihan sama istri kamu? Jujur, ini sangat-sangat bertentangan dengan prinsipku. Kita udahan yah? Plis..." Dengan nada datar Eitha melontarkan beberapa pertanyaan dan permintaan yang masih sama seperti hari-hari sebelumnya. Tapi kali ini beda, kita saling menatap dalam-dalam, mata kita bertemu dalam ruang ketaktermungkinan.
"Memang siapa aja yang tahu tentang statusku? Teman kampusmu, orang tuamu, atau semua orang? Nggak ada kan?! Di duniamu, yang tahu tentang statusku cuman kamu, Eitha. Lebih sakit mana, kalo dulu aku berbohong tentang statusku, lalu kita jadian, di tengah jalan tiba-tiba kamu tahu tentang statusku. Lagian, emang selama ini kita ngapain? Selingkuh? Menurutku sih enggak! Kalo tujuanku cuman selingkuh, gak mungkin aku selingkuhin mahasiswi seperti kamu. Mending aku selingkuh sama janda kaya. Materi berlimpah, nafsu, dan segalanya terpenuhi. Sudahlah, kamu konsentrasi saja sama kuliahmu, kejar terus cita-citamu. Jangan kamu terlalu memikirkan Istriku. Aku sudah memenuhi bahagianya, dalam bentuk apapun! Dia juga tidak merasa terganggu dengan kedatanganmu! Aku sendiri juga tidak tahu, Eitha, kenapa Tuhan memberiku rasa yang seperti ini? Dan kenapa rasa ini harus jatuh ke kamu? Sepanjang usia pernikahanku, sama sekali aku belum pernah merasakan ini sebelumnya. Meskipun, beberapa perempuan pernah mencoba datang dan mendekat. Plis, Eitha, aku gak ingin membatasi kamu. Kalo kamu ingin berpacaran dengan cowok lain, silakan! Siapapun itu jika kamu anggap pantas. Aku hanya ingin menjadi seseorang yang berada tepat di belakang kamu. Melindungimu, membantu apapun yang kamu butuh, hingga kamu bisa menyelesaikan cita-citamu, semuanya. Itu aja! Kelak, jika kamu menikah dengan lelaki pilihanmu, paling tidak kamu bisa mengingat bahwa pernah ada aku di hari-harimu dulu. Mencintai bukan berarti memiliki, itu benar, Eitha, dan saat ini aku sedang merasakannya, kepadamu..."
Dan penjelasanku yang panjang lebar itu mengantar kita pada kantuk yang luar biasa. Sepakat, malam itu pula kita tertidur di ranjang dan di kota masing-masing. Sebab semua ini hanya fiksimimpi.
Terimakasih atas luang waktu yang telah mengijinkan aku menidurkan kata-kata tepat di sebelah mimpimu. Menikmati wangi tubuh dan mengecupkan pejam di matamu
Langganan:
Postingan (Atom)