22 Sep 2015

Sederhana Saja

saat kita tua nanti, aku hanya ingin mengajakmu
mengamati bagaimana cara semesta saling melibatkan
pagi yang selalu melibatkan kicau camar,
malam yang kerap melibatkan bintang,
juga semilir angin sepanjang hari
yang mengajari daun-daun menari
sederhana, bukan?

setelah itu, aku akan mengajakmu
untuk memohon dengan cara mereka
pernahkah kau dengar cara mereka berdoa?
jika kau tak pernah mendengar itu,
mari meniru

sebuah permohonan tak harus terdengar, sayang
seperti jantungku yang meminjam degupmu
darahku yang melibatkan desirmu
juga kedipmu yang melumasi mataku

kita disatukan
layaknya pagi yang selalu melibatkan kicau camar
malam yang kerap melibatkan bintang,
juga semilir angin sepanjang hari
yang mengajari daun-daun menari
sederhana, bukan?

4 Sep 2015

Ruang Percakapan

kita terkunci di ruangan ini
pengap dan gelap, kataku
aku tak pernah bisa melihat rasi bintang
bulan kesiangan
juga jendela kaca yang mengembunkan sisa air hujan

siapa yang mengunci kita di sini?
waktu yang kurang baik hati,
atau hanya rasa takut untuk saling memiliki?

sementara dari matamu,
kulihat jatuh cinta seperti manis kembang gula
kagum kita,
nanar mata bocah lapar yang ingin menjilatinya

atau kita tak perlu keluar dari ruangan ini
menikmati percakapan yang selalu luput direkam matahari
di sini pengap dan gelap
tapi aku bahagia, katamu

14 Jul 2015

Bait Singkat dari Meja Bambu

ternyata, waktu juga bisa berubah menjadi hakim yang adil
melantik purba rinduku,
tertulis di lembar terakhir kalender usang yang hanya memuat bulan-bulan ganjil

lelah sudah terbaring,
pulas mendengar dongeng tentang baju penghangat yang kaukenakan dengan cara terbalik
cemas sudah mengalah,
santun menunduk dibius aroma parfum yang terus membuntuti

entah kapan, atau barangkali nanti malam
rinduku akan sekali lagi mendatangimu dengan bibir gemetar
mengantar pertanyaan bagaimana dan mengapa yang berulangkali gagal ia sujudkan
sesekali, ajari dia tertawa seperti anak-anak angin yang bercanda dengan helai-helai rambutmu
agar ia paham, resah tak perlu dipelihara
ada baiknya segala yang diminta cukup disampaikan dalam doa

dari binar matamu,
aku membaca sebait kata pengantar di buku terbuka yang ditulis penyair piatu
sajak-sajak beraroma tanah basah
kalimat-kalimat yang memuat gundah
juga suara sunyi yang ditiupkan lamban daun-daun trembesi

sejak malam ini, mungkin kau akan percaya
rindu tak ubahnya dosa kecil yang hanya bisa diampuni oleh satu kali pertemuan
langkah ini hanyalah caraku membuktikan bulatnya bumi
berjalan menjauh, agar bisa menemukanmu kembali

7 Jun 2015

Minggu Malam di Surabaya Selatan

sepoi angin beraroma wangi malam itu
semerbak Lily menyusup ke penciuman,
menjalar ke debar-debar
harum itu diedarkan rona malu kita yang saling kejar di udara
kau duduk di depanku dengan senyuman yang sungguh tenang
berdua, kita mempelajari kecewa
tentang sesuatu yang mustahil untuk disatukan
kau iris perihnya menjadi beberapa bagian,
lalu kita nikmati bergantian

seketika semesta menahan napas,
ketika pandanganku berhenti di lapang dadamu
laksana langit bermahkota pelangi
tempat mandi anak-anak khayalku yang bermain air di bawah hujan pagi
dari dada itu pula, aku menyadap luka hidup dan pedihnya keterjatuhan
sebaris nama-nama berhasil kusimpan
nama yang kuanggap musuh besar paling licik,
di salah satu judul dongeng yang dulu diceritakan ibu setiap jelang tidurku

adakah temaram yang mampu melampaui sembap matamu?
sementara pertanyaan itu datang,
kita masih menyimpan kagum rahasia yang saling mencari di setiap malamnya
berpijak pada gundah,
mengitari halaman tanda tanya
meminjam kaki keliru bernama cinta

atau esok, kita tanyakan saja pada senja?
sambil mengajari anak-anak angin yang khilaf itu
bermain tiup menempelkan beberapa helai rambut di kenyal pipimu
percuma saja, malam tak juga menua
seperti ingin mencuri dengar atas cerita dua anak manusia
kebahagiaan yang dirundung kemustahilan
ketenangan yang menerus dihimpit kecemasan

hadirmu ombak laut setenang perigi
naluriku nakhoda muda yang gusar dan kurang teliti
sesumbar mengajakmu memandu kapal menuju dermaga
menghabiskan sisa usia dengan hangat rahasia sebagai tirainya
agar kau bersedia menetap di sini
menikmati denting kecapi
atau menjadi denyut-denyut ganjil yang menggenapi sepinya nadi

19 Mei 2015

Kedatangan Pemilik Sore

berawal dari ambang maya di pelataran kata
kita saling membaca
lalu terjangkit kagum yang sama
tak mungkin bisa dijelaskan pandangan mata, gerak raga
bahkan guncangan debar yang menginjak rapuhnya tulang-tulang dada

dengan kekuatan hasrat yang tak kauketahui,
aku mengumpulkan ribuan senja yang ramah
sebagai kalam yang kumaharkan
untuk cahaya sore yang biasa menyentuh hijau urat pipimu
aku juga memiliki sekumpulan degup yang jujur
sudi berkarib dan sedia mengawal ke mana perginya arah jantungmu

selanjutnya, seucap doa akan kutiupkan sebelum terpejam
agar ia menyatu dengan langit-langit kamar
suhu ruangan
serta apa saja barang bisu di situ
yang lebih dulu kasmaran pada semesta tubuhmu

maka tetaplah seperti ini
ajak aku menuju kota yang tak memiliki pagi,
atau terik matahari yang seringkali menyakiti
ditenangkan merdu tembang-tembang serangga
yang menggelar pesta sambutan untuk datangnya musim penghujan

masih tersisa satu tanya
sudah berapa hati yang jatuh, sesaat setelah sepasang mata itu kaukedipkan?

9 Des 2014

Selasa Pagi

Selasa pagi pernah bertanya,
Bagaimana kabarmu?
Lembut, lamban menyerupai kepak sayap kelelawar yang berpura-pura membenci matahari
Melebihi lentur angin yang mengajari pohon-pohon menari
Selasa pagi juga bertanya,
Ke mana perginya pelukan yang pernah kaupuja dengan delapan ratus bahasa?
Kecup yang kaukatakan pandai menidurkan rembulan luka karena gerhana,
Atau usap paling menenangkan bagi angsa yang dijangkiti kecewa karena arus telaga
Perempuanku, aku gemetar mengingat suaramu yang tak lagi bisa kudengar
Memandang punggung yang perlahan menghilang
Dan rindu, telah menjadi hukuman atas dosa kecil yang hanya bisa diampuni oleh pertemuan
Seketika aku menggigil pada suhu terendah
Sementara hangatmu, layaknya punggung lembah yang disanjung ribuan kabut-kabut
Degupku parau
Diremehkan gurau angin dini hari
Diacuhkan sepi yang lebih sunyi dari denyut nadiku sendiri
Perihal apakah yang membuatmu setabah ini menanti?
Tanya Selasa pagi
Sebab dekapmu murni, bukan hangat buatan yang kumenangkan dari meja judi

1 Des 2014

Isi Kepalamu

Kepalamu seperti laci pribadiku
Berisi arloji, kartu memori yang tak kupakai lagi, juga gunting kuku; yang hanya kugunakan sekali dalam seminggu

Kepalamu layaknya gayung di kamar mandi
Suka bergoyang dan berputar-putar, ketika dialiri air dari keran

Kepalamu serupa warna cat rumah tetangga sebelah
Selalu diganti sesuai selera setiap tahunnya

Kepalamu seperti baju buruh pabrik yang susah dicuci
Sebab noda membandel, atau kotoran lain dan sisa-sisa oli

Kepalamu layaknya kipas angin di warung kopi
Terus berputar dan menoleh ke kanan kiri meski sepi pembeli

Kepalamu serupa lampu kamar yang lupa kumatikan
Tak terlalu terang, tak jarang hanya menganggu pejam

Barangkali seperti itu, kau menebak isi kepalaku yang masih selalu berisi tentangmu