17 Apr 2014

Empat Pertanyaan Menjelang Pukul Empat Pagi

Mual di perutku mulai merambat naik menuju tenggorokan. Arloji berantai hitam pemberian perempuan luar biasa yang melingkar di tangan kiriku menunjukkan pukul 03:47 Waktu Indonesia Bagian Barat. Wajar saja jika dingin embun seolah menertawakan langkahku yang sempoyongan memasuki lorong kampungku menjelang pagi itu. Sebelum akhirnya berhasil membuka pintu rumah, tiba-tiba ingatanku membentuk sebuah tongkat yang memukulkan beberapa pertanyaan di kepalaku;

• Selain penyesalan, apa lagi perihal yang menakutkan?
• Jika tak ada puisi, dengan cara apa aku bisa menyembunyikan tangis?
• Apa yang bisa kulakukan jika masa muda Griselda Blanco ingin sekali menikahiku?
• Apa jadinya jika semua orang yang kusayangi berubah menjadi gantungan kunci?

13 Apr 2014

Luka Abadi yang Karam di Laut Puisi

Entah bagaimana persisnya
tiba-tiba aku ingin menebak
berapa banyak hangat genggaman
yang kutebar di pergelangan tanganmu.
Sebelum kau tersakiti, sebelum kau berlari pergi.

Aku pernah melupakan lapar hanya karena ingin mendengar kenyangmu.
Aku sempat mengabaikan hangat hanya karena menolak mendengar gigilmu.
Namun kau menyukai tajam,
lalu mendorongnya lembut,
mengarahkan ke seluruh denyutku.

Semena-mena kau menyeret wajah bulan yang terbiasa menerangi beranda.
Biar pudar!
Agar menyebar ke seluruh memar.
Meninggalkan aku yang dijangkiti kecewa,
lalu membiarkan perih menancap di sana.

Sepandai itukah kau melubangi urat nadiku?
Muara seluruh denyut,
yang kupakai menyelamatkanmu ketika hanyut.
Tak pernah kuucap percuma,
meski hanya mengapungkan dosa.

Entah bagaimana persisnya,
tiba-tiba aku ingin menebak
berapa kali aku menyebutmu luka abadi yang karam di laut puisi.

16 Feb 2014

Di Hadapan Subuh

Suara hujan tak lagi senada.
Aku berkemas ketika jarum detik masih berputar setengah lingkaran.
Mengelabuhi sisa gema langkahmu yang meneruskan suara bantingan pintu.
Subuh merapat, menggaungkan khusyuk suara adzan yang semakit dekat.

Di sini, aku duduk berhadapan dengan halaman yang pernah kau sakiti.
Jejakmu pernah menginjak segala yang tak tampak,
mengundurkan diri meski tak ada yang menginginkan engkau pergi.
Kamu sudah terlambat, kata waktu.
Masih banyak dongeng kita yang harus kuusung satu per satu.

Aku sedang menunggu badai yang berpusat dari senyummu,
kenangan, juga beberapa perihal yang lupa kita tuliskan.
Badai yang tak pernah dihitung oleh dunia
seperti air telaga yang gagap membaca gerak bulu-bulu angsa

Engkau pernah lahir dari air mataku,
yang kerap memohon kamu ada.
Sebab rindu kerap merupa lilin tanpa sumbu.
Leleh tanpa api yang kunamai pelukmu.

Sore nanti, jika senja mulai menguning,
sempatkan waktu untuk menengok keadaan rinduku.
Kita pinjam sampan para nelayan,
menghadapi ombak yang ditiup ramah angin daratan.

28 Jan 2014

Sebab Engkau

Saat matamu sembab diadili tangis, seketika aku ingin menjadi pagi yang melupakan gigilnya sendiri. Menjadi tubuh yang lebih tabah, sebab ada tanya yang butuh jawab ketika kurangkum sekujur jelitamu yang terbungkus hijab.

Engkau penggenap yang layak dianggap.

Aku suka aroma sore itu. Wangi gelagat malu yang dibahasakan matamu, terbingkis rapih kain merah muda bernuansa perempuan yang sedang berdoa. Menyajikan sebongkah sajak yang layak terpahat oleh debar dadaku. Kurenungkan dengan sebentuk gemetar dan angan, bagaimana jika kutuliskan empat buah haiku di punggung tanganmu.

Engkau tunggal yang tak pantas ditinggal.

Jika saja ada selusin pagi yang harus kupilih, aku menunjuk sebelas mereka yang terbit membawa wangi rambut dan halus keningmu. Biar saja bangunku terlihat lancang, seperti amin yang terucap sebelum doa itu terdengar. Maka meledaklah, ramu malumu menjadi warna-warni lampion yang digemari mata para bocah.

Engkau sunyi yang mahir bernyanyi.

Tak perlu menjadi luar biasa, sederhanamu saja cukup mempesona. Yang aku tahu, enam puluh menit bukanlah satu jam untuk aku mengatakan itu di depanmu. Sebab debar di dada sibuk bertanya, mengatakan yang seharusnya atau menikmati beliamu saja.

Engkau sekarang yang tak butuh kemudian.

22 Jan 2014

Aku Pernah

Aku pernah menjadi Indra;
Duduk tertegun sendirian di Food Court Tunjungan Plaza. Bersama Rani, Indra pernah menghabiskan beberapa jam waktunya. Tepat di bangku itu, bangku berhadapan di depan Nasi Goreng Mama, dengan percakapan dan tawa seadanya.

Aku pernah menjadi Indra;
Tiba-tiba matanya berkaca-kaca, melihat photobox Delta Plaza lantai dua. Di dalam box itu, pernah ada beberapa pose lucu, konyol, yang diperagakan Rani dan Indra di depan kamera. Sampai saat ini, photo itu masih tersimpan rapi di sebuah pigura, di atas meja kamar Indra, di dekat jendela.

Aku pernah menjadi Indra;
Memandang dari kejauhan kantor polisi Tegalsari, lalu meneteskan airmata. Di sana, Indra pernah diciduk polisi gara-gara berkelahi ketika sedang mabuk, dengan sekelompok pemuda yang menggoda Rani. Di kantor polisi itu pula, semalam suntuk Rani menolong dan menemani Indra.

Aku pernah menjadi Indra;
Berusaha sekuat mungkin untuk tabah, saat membuka Recent Update BBM, ada Rani yang memasang photo dengan pacar barunya. Statusnya pun "Selamat tidur, Sayang, terimakasih untuk malam ini". Sempat ada pertanyaan dalam hati Indra "Mereka habis kencan kemana?".

Aku pernah menjadi Indra;
Dadanya sesak ketika melihat Wall Facebook Rani, dan membaca kata-kata mesra yang dikirim pacar barunya.

Aku pernah menjadi Indra;
Menyiksa diri dengan memutar lagu Bertahan-nya Rama, Denting-nya Melly, Cinta Putih-nya Kerispatih, dan lagu-lagu sedih lainnya ratusan kali sambil stalking akun twitternya Rani. Indra sering melakukan hal itu hampir tiap malam. Walaupun terkadang, ada beberapa percakapan yang membuat hati Indra sakit. Ya, percakapan Rani dengan pacar barunya.

Aku pernah menjadi Indra;
Yang tak tahu harus kemana setiap malam Minggu. Biasanya, pukul tujuh malam Indra sudah berangkat dari rumah untuk menjemput Rani. Membawa sebungkus Terang Bulan atau Martabak kesukaan Mama Papanya. Selanjutnya, mereka menghabiskan Sabtu malam dengan teman-teman, tak jarang juga berdua.

Aku pernah menjadi Indra;
Seketika berdebar ketika berada di belakang cewek berambut panjang, mengendarai Mio putih, memakai helm Hello Kitty dan mengenakan sweater warna merah. Sosok yang menyerupai Rani.

Aku pernah menjadi Indra,
Sering menangis sebelum tidur, teringat beberapa kejadian yang ia alami bersama Rani, 2 tahun terakhir ini.

Dan malam ini aku telah menjadi Indra;
Mendengarkan curhatan Indra, yang dua bulan lalu putus hubungan dengan Rani. Sebisa mungkin memberi solusi, atau berbagi pengalaman yang mampu membesarkan hati. Mendoakan kebaikan Rani, kebahagiaan Rani, dan tetap bersikukuh untuk menjaga cintanya untuk Rani.

2 Des 2013

Sebelum Dia Menyebutmu Istri

Perempuan yang tak kuinginkan itu pulang dengan langkah tak terdengar. Membawa rekaman jerit, bentak, juga beberapa cerita tentang apa yang membuat sembab mata dan lebam biru di pipinya.

Aku pikir, ia datang untuk memberitahukan makanan berbahaya apa saja yang tak ia perbolehkan untuk aku makan. Sebab dia takut aku terkena stroke atau serangan jantung lalu mati, dan ia tak bisa mendatangiku lagi.

Atau mungkin, ia hanya ingin sekadar mengingatkan kalau dia masih sangat membenci acar, yang ia bilang selalu membuat liang surganya basah, dan ia tak mau aku kecewa ketika menyetubuhinya di hotel-hotel murah kelas Kamboja.

Malam itu ia datang tak mengenakan kacamata. Ia bilang ingin sekali melihatku telanjang tanpa terhalang apa-apa. Ia membawa setangkai bunga berwarna merah muda. Cantik sekali! Persis lesung pipit dan rambut cepolnya yang sering aku tuliskan dalam puisi. Lesung pipit yang selalu aku puja, aku pelihara, yang tak pernah menguap begitu saja meski berulang kali aku campur dengan majas apa saja.

"Tadi waktu aku beli, bunga ini wangi sekali" katanya.
"Tidak seperti kenangan dalam kepala kita yang mampu bertahan lama, wangi bunga bisa saja lenyap mengudara ketika ia sampai di tangan penerimanya."

Kami sempat terlibat perdebatan kecil, tentang siapa yang dulu meninggalkan atau ditinggalkan. Aku memilih yang kedua, namun ia menyanggahnya. Ia bilang, "cinta kita tak pernah tanggal, meskipun kita berjauhan dengan peluk terpenggal."

Untuk melanjutkan perayaan cinta dan dosa, malam itu kami sengaja memilih ruangan paling gelap. Agar tak ada siapapun yang melihatnya kecuali kita bertiga; Tuhan, aku dan dia. Sebab cinta hanya membutuhkan itu saja.

3 Okt 2013

Cinta Kita Tak Membenci Jarak

Akhirnya rindu merayuku untuk menuliskan sebuah pulang,
tentang sebuah pintu yang sengaja kau buka hingga lupa kau tutupkan
Ini adalah senja pertama,
di mana aku duduk berhadapan dengan rindu yang merajalela

Nadi ini, masih saja detak pada puisi
Satuan jarak yang mendidihkan kata,
namun kita masih saling panggil dalam bahasa
Menjadi barangkali yang belum tentu diamini
Hingga malam ke seratus,
kita masih riuh menuliskan luka, juga cinta

Kita berdiam pada jarak yang bermusim resah
Mengelabuhi purnama yang serupa warna kulitmu,
mendustai pikiran bahwa rindu ialah kunang-kunang yang terbang dari matamu
Sekali lagi, aku ingin lebih khusyuk menghirup wangi sapamu, Esti

Tiada temu bagi sepasang mata pun sela jemari kita
Tiada temu yang paling tidak, mampu mereda rindu yang ada
Sebab yang tersisa hanyalah kenyataan bahwa jarak sedang dengan bebas menari-nari di antara
Sebab yang ada hanyalah potret kita dalam kebersamaan yang seperti hampa

Aku dijamu langit merah, dengan rangkai sempurna puisimu yang membuat senyum tampak semringah
Sesekali kututup mata, biar kehadiranmu dapat dengan nyata kurasa
Seakan tak peduli dengan beragam tanya, tak ambil pusing dengan tanggapan mereka
Biar ketika aku sedang cinta, tak kuberi celah masuk untuk satu pun luka
Biar ketika aku sedang cinta, yang kubayangkan hanyalah bahagia kita

Meski di benakku, duniamu kini masih tampak entah
Meski sebenarnya, apa yang sedang kita jalani ini tidak mudah
Namun, paling tidak, berjanjilah;
untuk jangan pergi, cintai aku sekali, dan secara lebih lagi.

Sebuah berbalas puisi oleh @estipilami dan @penagenic