21 Jul 2013

Kolak Pisang di Cangkir Plastik

Aku menata sajak ini dari bulu-bulu halus yang tumbuh di tengkukmu
kureka sedemikian rupa,
agar ia bersedia menjadi sayap yang mengantarku ke telingamu sebagai doa

Betapa kubayangkan, satu sore menyilakan kita menukar bayangan
Senja berencana membongkar kenangan
lalu kita, melengkapi khusyuknya cerita berbuka puasa

Tak perlu istimewa
seperti datangmu yang sederhana
namun bisa membuatku punya debar yang luar biasa
Kolak pisang di cangkir plastik,
digenapi beberapa helai roti tersuap dari jemarimu yang lentik

Warna langit mulai meranum setara bibirmu malam itu
dingin menaburi percakapan dari sungging-sungging temu
menambah warna kenang pada keningku
menjadikanku keringat yang pantang tercuci dari saputanganmu

Kita masih berada di satu langit, Fika
Perihal tatap mata yang kerap dibatalkan,
pertemuan bibir yang sering digagalkan,
juga genggaman yang selalu menemukan ganjal,
anggap saja ini sementara peran
agar jarak punya dongeng yang bisa kita tertawakan

Malam itu, aku melihat Tuhan tersenyum di sepasang alismu dengan arah terbalik.

19 Jul 2013

Rindu Belum Siuman

lelah ini mengajakku pulang searah angin
guru terbaik yang mengajariku mencintaimu dengan cara yang rutin
seketika udara senyap murung
pikiranku sedang diayun kelopak senyummu yang anggun
sekelompok camar menabrak mendung dengan paruh tergulung

apakah ini pertanda rindu, Fika?
tanyaku tak dijawab cuaca
masih terlalu belia jika aku harus berjalan dengan kaki telanjang
sedang kerikil tajam di depan sana,
pandai membentak ingatan dengan tajam yang masih rahasia
napasku runtuh menopang usia
dipukul sabar buatan yang gagal mengajakmu rebah di satu beranda

sesekali aku ingin menyambangi matamu dengan matahari lain
mata yang pernah membuatku suka menuliskan kata saling pandang
yang punya kedipan santun mewakili gerak rembulan
namun pagiku selalu pucat sewarna rindu yang tak kunjung siuman

ini sore keramat
meluap bercampur warna kutukan yang pekat
aku mabuk aroma kerudung itu
jika malam nanti tak diracuni cemburu
sempatkan waktu untuk mendengar doaku yang merayu hijabmu

17 Jul 2013

Salamku Disampaikan Sore

kelopak senja mulai terbuka
kalimat ini hanya menjadi geming, ketika rindu menjadi penguasa kahar di kepalaku
menghunus matamu yang kerling, senyummu yang bening
bulu mata yang menyaput cuaca,
juga kedipan yang seolah membuka tirai surga
seluruhnya, sedang akrab dengan ingatan yang menempuh sejarah di setapak jelita

tak seperti puisi yang belum sempat kau beri judul lalu kau hilangkan, Fika
aku meminjam paruh angsa untuk melubangi jantungmu yang tembaga
membaca debarmu yang sederhana,
merapatkan bibir dan kening yang gelisah
dibatasi jarak ratusan purnama

musim tak juga membaik, aku semakin kerdil
lidah kita beku, melumat getir ludah di lidah masing-masing
tak ada lagi waktu untuk aku tertidur di semak-semak
mendamaikan dada yang tak kunjung diziarahi peluk
mendengar hembus yang didongengkan napasmu
hingga jarak ini tak terasa asam melukai lambung temu

9 Jul 2013

Bulan Tanpa Perkara

Detak-detak kian pekat dalam ingatanmu
Seperti langit mengantar gerimis malam ini

Waktu masih saja serakah,
dikumpulkannya ingatan-ingatanmu dalam sebuah toples
Kemudian menjualnya dengan harga yang tak dapat kau beli

Kandang tua itu adalah kepalamu
Perawan suci yang melahirkan rindu dari sebuah janji
Sang juru selamat meski tak beralamat

Tatapanmu telah jauh, tiga purnama telah tuntas kau bunuh
Namun tak kau temukan cara menjerat bayangan


Ini hari pertama di bulan penjara
Nafsu semakin dingin,
digarami asin keringat yang dikeringkan angin

Suara langkahmu semakin jauh
Menginjak tanah penghasut arah,
mengayun sesat meninggalkan kenang yang basah

Engkau telah menggenggam tawa kita
Menjadi selir yang mendamaikan tangis,
mengibas kipas lamban agar semilir angin bisa kurasakan

Sementara aku telah terkafan rindu tak kenal habis
Terpejam di gelap yang bengis
Menyeberangi abad yang pernah membungkus kita dalam Absurditas Romantis


Kolaborasi puisi oleh @sedimensenja dan @penagenic

23 Jun 2013

Pecahan Sore

Senja meledak di kelamin cakrawala,
menafkahi gelisah penyair-penyair muda
dengan rindu yang lebih anyir dari darah Punisia.

Aku terlibat,
ulu hatiku mendidih,
liurku mengering,
lidahku mendapat izin menamai sore itu dengan sebutan Laknat.

Pada langkah pergi yang telah mengotori jejakmu,
sepiku lupa cara mengucap caci maki yang baik.

Menyangkarkan dendam untuk air mata yang asin,
mengalir dari mata berkarat yang tertusuk lidi-lidi buatanku sendiri.

Hingga sampai di telinga,
kabar seluruh badan malam telah membusuk.

Sementara tubuhmu sibuk mengedarkan wangi yang perih,
menjepit putaran detik dengan memar yang lebih kejam dari bekas cubitan ibu tiri.

Melupakan satu tugas terakhirmu, untuk sekadar mengubur
bangkaiku.

Seluruh Kita di Dalam Kata

Satu hari dengan pagi yang tak berjudul, aku tak ingin berkhianat atas sajak yang akan kutulis.
Seperti keindahan, yang hidup atas paru-paru namamu.

Kuawali dari jelitamu, yang kuangankan mimbar bagi segala jenis kekaguman.
Nyalang matamu ialah terik, mengamini doa untuk mengawali segala kehidupan.
Rambutmu ribuan serat tanpa ruas.
Pantulan sinar rembulan imitasi, anak panah menuju pulang yang kupercayai.

Hembus napasmu, kehangatan yang setia memeluk daun telingaku;
yang merupakan keranjang, buah-buah ranum yang jatuh dari bibirmu. 
Keningmu, tenang permukaan telaga.
Melayarkan mimpi bibirku yang sekoci, menuju pulau sunyi yang tak memiliki pagi.
Bulu matamu atap dari istana yang megah, sandaran tubuh untuk berteduh, dari terik hingga hujan yang dijatuhkan semesta. 
Kedipanmu hening damai tanpa suara, santun langkah kaki jenjang bidadari yang mengitari purnama.
Bibirmu debar debur laut, pembasuh paling riang, penerbang sukma menuju temaram surga.

Lalu aku mengingat pelukmu; hangat muara jutaan cuaca, yang tak cukup kutulis dengan majas apa saja.
Bahkan pundakmu, bantal terbaik untuk kepalaku.
Padang pasir yang tak punya akhir dijelajah musafir — berparas serupa Yusuf. 
Sidik jarimu adalah arsiran acak di atas debu. Kujaga serupa kain beledu, rebah lembut damai kulit pipiku.
Lenganmu samudera yang membentang.
Tempat segala anak-anak rindu terdampar, penenggelam paling tenang, untukku yang tak pandai akan renang. 
Jemarimu runcing belati berkuku ungu, mengerat pergelanganku yang kaktus berdarah salju.

Kini, labirin-labirin hatiku, telah ramai menanti damai.
Kemarilah, bingkiskan sekotak pelukan berpita merah muda.
Jika kau mempercayai kisah ini, akan kusiapkan seluruh hangat yang kumiliki.
Semoga saja, Tuhan melibatkan kita pada takdir yang sama.


Kolaborasi puisi oleh @poetrypi dan @penagenic

29 Mei 2013

Dua Lelaki dan Puisinya

Kolaborasi puisi oleh @penagenic dan @penenun_kata

Pada kemarau ini, bulan masih mengantongi satu musim lagi
Iringan Nebula, beranjak dari ufuk dengan irama
Gerak anyelir mengobarkan angin, membentur ingatan yang retak
Tandangkan nyiur kecupan pujangga kecil di bawah pohon Oak
Mendaras tangis bagi isyarat hujan yang tak membasahi apa-apa
Guratan tintanya, ia mundurkan usia
Mengeruhkan airmata yang lebih gelap dari susunan luka
Sedetik demi sedetik, hingga ia jatuh cinta pada masa lampaunya

Katanya, "Kekasih, kepadamu malam memeluk, kepadaku gigil sepi itu mendidih".
Gema goresan kata kembali membungkam keributan angkasa
Hingga tinta emasnya patah, pujangga itu lari menuju peraduan terakhirnya
Aku berangan kita menjadi sepasang jasad yang mabuk
Mengenali bidikan Atraile, Cupid, apalah namanya engkau

Tangkai pancaroba lebih perkasa menahan kantong-kantong doa
Wahai pemilik cinta, hunuskan sekali lagi dirinya padaku
Jernihkan aku sebagai air perigi untuk membasuh lukanya yang biru
Lelapkan nadinya pada arteri jantungku
Tukarlah debar kami yang tak lagi saling mengenali
Selamanya, hingga puisi ini mati di tanganku sendiri