26 Mei 2013

Hari Jadi Bungsu Puisi

Mey...
Beberapa jam sebelum aku terbangun,
barangkali sajak ini telah menuliskan dirinya sendiri.
Jemariku hanyalah kerani tanpa gaji,
yang bersedia menyalinnya disini.

Jika kelak kau telah menjadi yang kubayangkan dalam doaku,
tetaplah menjadi ibu lembut yang bersedia merawat puisiku.
Telah kubangun panti bagi mereka,
sebentuk keranjang beralaskan bunga,
sudi merangkum dan merekam harumnya perjalanan kita.

Seperti yang sering kau bilang,
"Tuhan itu genit"
Bisa jadi sajak ini mewakili pernyataanmu.
Kita hidup di tanah perjanjian yang berbeda,
namun masih menghirup udara dan kata-kata yang serupa.

Sejauh ini gerak jemarimu masih hening,
mungkin ia masih lelap pada perihal yang lebih penting.
Tapi satu hal yang perlu kau tahu,
wangi anggunmu masih kutunggu untuk melantik sajak-sajakku.

Selamat Ulang Tahun, Dian Meithasari...

25 Mei 2013

Monolog Menjelang Pagi


Sebelum dini hari menjadi pagi,
aku berangan mendengarkan napasmu
perempuan berjantung rembulan,
mahir menidurkan badai dengan usap tangan yang menenangkan

Sangka ini melahirkan ribuan anak danau di mataku
tempat tata surya berkaca,
menerka jumlah denyut di kedalaman duka,
mengukur ceruk luka yang semakin dalam karena kecewa

Gelap malam telah menyerupai warna bir yang kutuang
rindu menjelma degub yang meramaikan jantung serigala hutan
menuduh bibirmu sebagai korban,
sebait metafora dari kelenjar sayap yang mengajakku terbang

Ceritakan padaku,
seperih apa gerimis malam ini menjatuhi ubun-ubunmu
lebih nyeri dari jantung binatang buruan yang terpanah,
atau melebihi anyir sayatan yang dilembabkan nanah?

12 Mei 2013

Pergimu Sunyi


Segala jenis hening yang dituang malam terasa makin mengental
Semarak pujian tentang senja menjadi kabar yang lewat terdengar
Kita masih bertahan dengan peluk terpenggal

Di pelabuhan puisi ini, jelitamu tiba sebagai kapal tanpa nahkoda
Tapi pertengkaran, ialah anak ombak yang menenggelamkannya
Siulanku menjadi alunan suara yang tertiup dari bibir pendosa
Semoga di telingamu, ia sampai sebagai doa penenang usia

Ada sajak yang pernah kujadikan penutup telinga
Ketika sebuah pintu yang kau banting menjeritkan luka yang kupelihara
Lalu cahaya bulan mengering
Kau pergi mengenakan sepatu bernama waktu
Perpisahan telah menjelma badik yang menghabisi awal tahunku

Pergilah!
Barangkali di luar sana,
kau temukan peluk yang lebih tabah dari dada yang aku punya
Kau tetap menjadi pertanyaan dari kening yang kukerutkan
Kau tetap udara pengisi di pipi yang kucembungkan
Dan engkau tercipta sebagai sesuatu yang kumiliki, namun menolak kupahami

Seharusnya, kamu bisa hidup bahagia dengan ribuan senyuman di satu ruang
Seharusnya pula, ruangan itu adalah ingatanku

19 Apr 2013

Malam Sedang Hujan, Naylie

Malam sedang hujan, Naylie. Kali ini, bibirku menjadikan punggungmu sebuah sekoci yang mengantar kuplet untuk udara yang sakit. Mengabaikan gelombang jahat yang digaduhkan petir, juga gigil. Jangan tergesa membalikkan badan, anganku belum tuntas berlayar. Angan yang berisi pikiran janggal, bahwa dari punggung itu akan tumbuh sepasang sayap. Mengepakkan wangi ribuan kata yang kau curi dari sajak-sajakku yang belum sempat kau baca. Lalu kau akan begitu saja terbang, pergi, mengabaikan apa yang napasku hembuskan dan nadiku denyutkan.

Jika pikiranku sudah mencapai tengkukmu, ada teduh yang tak pernah selesai. Gerak lamban daun-daun nyiur, menyiulkan suara ratusan dewa yang sedang menidurkan rembulan luka karena gerhana. Di situ, ada udara yang tak cukup digambarkan dengan kata sejuk. Wangi paling taman, tempat dimana ribuan sajak dimekarkan.

Lalu lenganmu, tempat dadaku bermain untuk mengelabuhi dingin. Pengukur suhu terbaik ketika tubuhku mulai didemamkan rindu. Kadang, aku ingin membangun istana ciuman di sana, lalu memahatkan beberapa haiku di sebuah prasasti rahasia yang mengelilinginya.

Ketika kubayangkan tubuhmu telanjang, Naylie, ada ranum yang selalu merayu gerak mataku agar berhenti di payudaramu. Darah yang mengalir lebih deras dari sebelumnya, ketika telapak tanganku mulai berkhayal untuk menyentuhnya. Aku menemukan jutaan musim dari bentuk tubuhmu. Tak hanya hujan, juga tak hanya salju. Angin yang tiba-tiba terpejam, terik yang kadang menghajar, juga bintang-bintang palsu yang memegahkan semesta kulitmu.
Ajak aku menua bersama usiamu.

25 Mar 2013

Sekali Lagi

kau kirim lagi sebuah tanda
meleleh lalu menggarisbawahi puisiku
serupa tanda tangan yang disetujui alir darahmu

kau kirim lagi sebuah aroma
aroma keringat lelah dari kekalahan
meruapkan cerita senja yang kita racuni dengan pertengkaran

kau kirim lagi sebuah cahaya
santun menyelinap dari tingkap mimpi yang selalu kubuka
mengubah cacat purnama yang dilukai gerhana

19 Mar 2013

Jejakmu di Halaman Berpasir

apa yang diharumkan hujan ini, Carine?
di halaman berpasir, jejakmu biru
samar keluar dari rahim persembunyian,
menjejakkan cerita yang kau hirup dari angin kayangan

almanak kembali berpeluh
tanpa kita, penanggalan hanyalah lembar maya yang lebih basah dari airmata
hingga kita menyerah ditelan dongeng-dongeng asing
lalu melangkah meninggalkan rumah puisi yang ditegarkan angin

mimpi menjadi penguasa di kepalamu
matamu menjadi benih bagi puisiku
ketika sebuah luka menegur ingatan
aku paham,
engkau adalah alasan kenapa malam menjadi lebih cemerlang

engkau lebih hidup dari puisiku
hiduplah!
lebih hidup dari jemari yang mengusap embun di kaca jendelaku
akan tiba saatnya,
kita dihidupi pelukan dengan debar yang jujur di sekelilingnya

begitulah aku mengagumi semestamu
tempat kau menyembunyikan pecahan-pecahan langit
mendung yang mengisi rongga indera
juga wangi ribuan bunga di taman raksasa

9 Feb 2013

Munajat Ketakutan

Sepertiga petang menunduk. Kita berbagi sepiring senja yang sejak pukul lima sore itu sudah dihidangkan langit barat, tanpa kita pesan. Lagi-lagi, temaram menjadi awal kecurigaan dari gejala musim yang ditakutkan langit. Berapa banyak lagi sajak yang harus kutulis di linimasaku sore ini? Untuk menghargaimu, atau untuk melibatkan diri masuk dalam putaran indah yang dibuat oleh waktu. Tangan kita saling menggenggam, memang. Duduk berhadapan, mendatangkan tafsir yang tak janggal untuk beberapa pasang mata yang memandang. Kita adalah sepasang kekasih yang tak membutuhkan apa-apa, saat itu.

"Jangan terlalu takut pada cakrawala sore ini, ia hanya cermin yang memantulkan alismu" bathinku. Seharusnya kata ini kuucapkan langsung di depanmu, sebab aku menghadap timur, engkau yang menghadap barat. Tapi sudahlah, aku hanya ingin engkau lebih intim dengan pikiranku, itu saja. Aku takut. Aku takut dengan daidan yang merupa pagar sebelum memasuki hatimu. Jangankan mengetuk, melihatnya saja aku takut. Akan lebih baik jika aku beranggapan, bahwa aku hanyalah kabut baru, yang sebelum pagi datang nanti harus segera beranjak dari gunungmu. Ketakutanku adalah aroma tipis yang memasuki penciuman para pendaki. Ya, aku mencintaimu dengan segala ketakutanku. Kata-kata itu bisa kau baca di linimasaku. Dan ketakutan ini kubayangkan warna-warni yang kulihat di dinding gelembung sabun. Tipis dan mudah diletuskan. Semoga.

Untukmu yang sore itu mengenakan gaun garis-garis hijau pastel, aku menyimpanmu di pikiranku. Agar mudah aku melihat warna yang kerap memerahkan pipimu, ketika di depanku. Akan kutanyakan lagi pada Tuhan, apakah warna itu juga yang Dia gunakan memperindah pelangi? Jika memang begitu, pantas saja jika beberapa rintik hujan yang jatuh selalu berharap untuk kau tangkap. Aku mengagumi keanggunan caramu memperindah bumi. Cukup! Tuhan lebih tahu, jika engkau aku miliki, tentunya tak akan ada hal yang bisa kupertanyakan lagi.