Tengah malam ini aku terbangun, El...
Entah aku yang tidur terlalu sore atau kamu yang tak mau mendatangi mimpiku. Kubuka gorden kamar, di luar masih gerimis. Kecipaknya manja, mirip suara ciuman bibir kita di beranda rumahmu dulu yang hampir saja ketahuan Kakakmu. El masih ingat kejadian itu? Kadang aku tersenyum sendiri mengingat kejadian itu. Antara senyum dan rindu, ada pertanyaan yang belum pernah bisa dijawab waktu.
Kapan kita bisa mengulang lagi semua itu?
El, selain suara gerimis ini, ada suara lain yang sebenarnya ingin sekali kudengar.
Debarmu. Ya, debarmu.
Suara gaib yang kerap menggema menjelang pertemuan kita. Riuhkan dada dengan getar-getar kecil yang lebih samar dari gerakan detik jam. Jika kamu ada di sini, mungkin aku sudah berhasil membuatkanmu satu pesawat dari kertas. Yang selalu kubayangkan akan membawa kita menuju sebuah dunia yang berisi timbunan mimpi-mimpi kita.
Ah, malam ini seharusnya tak ada. Seharusnya aku tak terbangun sendirian seperti ini.
"With you is where I'd rather be.. But we're stuck where we are and it's so hard.. So far, this long distance is killing me.. I wish that you were here with me.."
Ditambah lagi lantun lagu itu mengitari memar dadaku yang telalu lama diinjak jarak. Jika tubuh ini kayu, mungkin sudah menjadi tatal yang dirajam tajamnya sebuah rindu. Sampai kapan sunyi ini menjadi epilog di pendengaranku, El?
Sebenarnya aku ingin sesekali kita bertemu, saling berpelukan, agar engkau paham tentang suhu tubuhku yang tak pernah merasa selesai membahagiakanmu. Menindaklanjuti sebuah rasa, agar cinta bisa tersimpan dengan baik di tempat yang lebih harum. Tak seperti jarak ini, kejam dan biadab mencabik nadi.
Disini, waktu berjalan tak lebih cepat dari laju siput. Aku menyelipkan kenangan di permukaan layar laptop yang sedang kupakai mengetik surat buatmu ini. Saat kamu menerimanya nanti, semoga kamu bisa menebak warna piama yang sedang kupakai saat ini. Aku rindu kamu, El, rindu suapan es krim dari tanganmu, rindu spageti instan buatanmu. Selama aku berunding dengan jarak, tak ada yang bisa membuatku tabah dan sekuat ini, selain mengingat caramu mencintaku yang selalu kau lakukan seperti kedipan. Lakukan sekali lagi, Sayang, untukku, juga untuk kepulanganku.
Terimakasih untuk waktumu yang telah bersedia melumasi sendi dan menguatkan tulang-tulangku.
Dari kekasih sederhana yang sedang memperjuangkan kebahagiaanmu...
I Love U :*
18 Jan 2013
16 Jan 2013
Sengketa Rindu Dari Kejauhan
Saat menuliskan ini, aku merasa sangat bahagia. El tahu kenapa? Ada beberapa kalimat yang harus kupetik dari surat yang kau kirimkan kemarin.
Aku tidak akan mengucapkan, "Aku masih mencintaimu", karena aku tidak pernah berhenti melakukannya, sejak pertama hati kita rebah di genggaman yang sama.
Rinduku perlahan pudar membaca itu. Beberapa detik terpejam. Aku mengingat hari ini seperti aku mengingat hari ulang tahunmu, juga hari pertama kita bertemu, dimana senyum dan seluruh gerakmu menjadi bahan terbaik yang tak pernah bosan aku pikirkan.
El, sejujurnya saat ini aku ingin merayakan rasa ini bersamamu. Dengan makan malam di tempat kesukaanmu, atau sekedar menyusuri jalanan kota, menikmati hujan dengan berbagi cerita tentang apa yang sudah kita lakukan seharian. Aku ingin melihat kebiasaan lucumu, memercikkan air kecil-kecil dari pipet minumanmu ke wajahku.
Harus malam ini! Tak boleh besok, lusa ataupun kapan. Sebab, mencintaimu selalu kulakukan sekarang, apa adanya, semestinya dan semoga seterusnya. Namun jarak...
Ah, inilah hal yang paling kubenci dari jarak!!
Setelah beberapa bulan aku disini, tak ada lagi sidik jari yang biasa dihafalkan kulit pipiku. Tak ada lagi cubitan-cubitan kecil di pinggangku ketika aku ngebut di jalanan, seperti kebiasaan yang El lakukan saat kuboncengkan. Bangku kiri yang selalu kosong saat berangkat dan sepulang kerja, kerap membuat aku muak pada apa yang bernama "Tugas".
Apakah ini siksa sementara untuk kita? Agar kita semakin paham bahwa kita memang saling membutuhkan? Kamu nyaman dengan jarak ini, El? Aku butuh jawaban atas pertanyaan ini, Sayang...
Jika boleh kugambarkan rinduku padamu, sama halnya saat kamu terpejam. Betapa besarnya hingga kau tak dapat melihat apa-apa. Beberapa cerita yang berhasil kuloloskan dari tawamu, tak ubahnya ludah pahit yang terpaksa harus kutelan.
El, di bagian akhir suratku kali ini, aku ingin sekali lagi mengatakan bahwa aku rindu menatap bola matamu yang selalu mampu menunda gerimis, suara tawamu yang menyerupai lantunan doa untuk bahagiaku, juga pelukanmu yang kerap menyediakan tempat lapang bagi dadaku. Aku mencintaimu layaknya izin semesta yang menurunkan hujan.
Disana, tetaplah menjadi bagian terbaik yang bersedia menampung dan merawat seluruh sisa usiaku, kelak...
Dari lelaki yang tak pernah bosan mencintaimu... I Love You :*
Aku tidak akan mengucapkan, "Aku masih mencintaimu", karena aku tidak pernah berhenti melakukannya, sejak pertama hati kita rebah di genggaman yang sama.
Rinduku perlahan pudar membaca itu. Beberapa detik terpejam. Aku mengingat hari ini seperti aku mengingat hari ulang tahunmu, juga hari pertama kita bertemu, dimana senyum dan seluruh gerakmu menjadi bahan terbaik yang tak pernah bosan aku pikirkan.
El, sejujurnya saat ini aku ingin merayakan rasa ini bersamamu. Dengan makan malam di tempat kesukaanmu, atau sekedar menyusuri jalanan kota, menikmati hujan dengan berbagi cerita tentang apa yang sudah kita lakukan seharian. Aku ingin melihat kebiasaan lucumu, memercikkan air kecil-kecil dari pipet minumanmu ke wajahku.
Harus malam ini! Tak boleh besok, lusa ataupun kapan. Sebab, mencintaimu selalu kulakukan sekarang, apa adanya, semestinya dan semoga seterusnya. Namun jarak...
Ah, inilah hal yang paling kubenci dari jarak!!
Setelah beberapa bulan aku disini, tak ada lagi sidik jari yang biasa dihafalkan kulit pipiku. Tak ada lagi cubitan-cubitan kecil di pinggangku ketika aku ngebut di jalanan, seperti kebiasaan yang El lakukan saat kuboncengkan. Bangku kiri yang selalu kosong saat berangkat dan sepulang kerja, kerap membuat aku muak pada apa yang bernama "Tugas".
Apakah ini siksa sementara untuk kita? Agar kita semakin paham bahwa kita memang saling membutuhkan? Kamu nyaman dengan jarak ini, El? Aku butuh jawaban atas pertanyaan ini, Sayang...
Jika boleh kugambarkan rinduku padamu, sama halnya saat kamu terpejam. Betapa besarnya hingga kau tak dapat melihat apa-apa. Beberapa cerita yang berhasil kuloloskan dari tawamu, tak ubahnya ludah pahit yang terpaksa harus kutelan.
El, di bagian akhir suratku kali ini, aku ingin sekali lagi mengatakan bahwa aku rindu menatap bola matamu yang selalu mampu menunda gerimis, suara tawamu yang menyerupai lantunan doa untuk bahagiaku, juga pelukanmu yang kerap menyediakan tempat lapang bagi dadaku. Aku mencintaimu layaknya izin semesta yang menurunkan hujan.
Disana, tetaplah menjadi bagian terbaik yang bersedia menampung dan merawat seluruh sisa usiaku, kelak...
Dari lelaki yang tak pernah bosan mencintaimu... I Love You :*
Di luar kata-kata yang kutulis disini, aku menelanmu sebagai manis yang dikandung madu. Bergeraklah di tubuhku sebagai hal yang selalu dimohon oleh nadiku.
14 Jan 2013
Senja Sedang Menjadi Ibu
El, di tempat kerjaku sore ini, senja sepertinya sedang menjadi Ibu yang berkali-kali mengingatkan aku untuk setia. Seperti kebiasaan Beliau saat di rumah, nama perempuan yang Ia sebut adalah kamu. Dan tak ada salahnya jika sebelum pulang kerja ini, aku menyempatkan sedikit waktuku untuk menuliskan beberapa paragraf kecil buatmu. Tentang beberapa pertanyaan dan pernyataan yang mungkin sedang El tunggu. Sama seperti surat balasan yang kamu kirimkan beberapa hari lalu, aku menunggunya.
Kabar El baik, kan?
Ini pertanyaan awal yang selalu ingin kujawab sendiri, "Iya, kabarku baik-baik saja..." Semoga saja kenyataannya sesuai dengan harapanku.
Pekerjaan lancar?
Sebelum kau membalas surat ini dengan pertanyaan yang sama, kukabarkan bahwa pekerjaanku baik-baik saja. Meski ada sedikit ganjalan masalah hati. Biasalah, namanya juga jarak, pasti punya ribuan cara untuk membisikkan hal-hal indah selain kamu. Dan kamu tak perlu khawatir tentang hal itu. Seperti yang aku bilang sebelum-sebelumnya, aku dilahirkan di dunia ini hanya untuk mengucapkan "I Love You" ke kamu, barangkali seperti itu. :)
Masih ingat lyric Your Call-nya Secondhand Serenade yang itu? Kesukaan El, Kan?
Di paragraf terakhir ini, El, aku hanya ingin menyampaikan perihal sederhana, yang mungkin juga akan kau dengar kelak di usia kita yang sudah memasuki kepala lima. Aku masih mencintamu. Dan jika kamu ada waktu luang, sempatkan membalas suratku ini. Tak perlu menuliskan banyak hal. Aku hanya ingin membaca empat kata saja darimu. "Aku juga masih mencintaimu", cukup.
Jadilah angin peniup yang selalu menerbangkan mimpi besarku, Sayang, sekencang apapun itu. Untuk kita, dan sesuatu yang sering kita sebut Kelak.
I Love You... :*
Kabar El baik, kan?
Ini pertanyaan awal yang selalu ingin kujawab sendiri, "Iya, kabarku baik-baik saja..." Semoga saja kenyataannya sesuai dengan harapanku.
Pekerjaan lancar?
Sebelum kau membalas surat ini dengan pertanyaan yang sama, kukabarkan bahwa pekerjaanku baik-baik saja. Meski ada sedikit ganjalan masalah hati. Biasalah, namanya juga jarak, pasti punya ribuan cara untuk membisikkan hal-hal indah selain kamu. Dan kamu tak perlu khawatir tentang hal itu. Seperti yang aku bilang sebelum-sebelumnya, aku dilahirkan di dunia ini hanya untuk mengucapkan "I Love You" ke kamu, barangkali seperti itu. :)
Masih ingat lyric Your Call-nya Secondhand Serenade yang itu? Kesukaan El, Kan?
Di paragraf terakhir ini, El, aku hanya ingin menyampaikan perihal sederhana, yang mungkin juga akan kau dengar kelak di usia kita yang sudah memasuki kepala lima. Aku masih mencintamu. Dan jika kamu ada waktu luang, sempatkan membalas suratku ini. Tak perlu menuliskan banyak hal. Aku hanya ingin membaca empat kata saja darimu. "Aku juga masih mencintaimu", cukup.
Jadilah angin peniup yang selalu menerbangkan mimpi besarku, Sayang, sekencang apapun itu. Untuk kita, dan sesuatu yang sering kita sebut Kelak.
I Love You... :*
13 Des 2012
Selamat Ulang Tahun, Bagian Tubuhku
sebelum beberapa kata ini kuketik, setengah jam yang lalu aku mengecupmu
ucapan "Selamat Ulang Tahun" tadi hanyalah caraku mencuri beberapa kata dari tubuhmu
karena sesungguhnya puisi ini ditulis sendiri oleh aortamu yang kerap menghubungi pikiranku
kedipanmu;
keajaiban terbaik yang dihadiahkan Tuhan
kubayangkan barisan tirai yang dibuka bidadari di pagi hari
mengirim sejuk bagi jantungku
dimana aku mulai percaya bahwa ada senjata yang kedap suara
dan satu-satunya mata yang lumpuh karena itu, ialah mataku
matamu;
sepasang musim yang bergerak seirama
ada hujan, salju dan dingin-dingin berbentuk lain
taman yang beraroma seribu bunga
titik kumpul kata-kata
yang tak pernah bisa kubaca dengan sekali eja
atau bisa saja,
rembulan besar yang lebih puitik dari purnama
alismu;
lengkung sabit maha tajam
tempat kesedihan dimakamkan dan bahagia dimekarkan
ketika keduanya kau angkat
aku bisa merasa bagaimana jika bumi berhenti tiba-tiba
Kuanggap kedua alis itu adalah tangan langit
yang sesekali mengulur genit
bertugas meremas cemas yang memanjang tanpa batas
rambutmu;
warna hitam rambutmu yang membuatku paham
bahwa warna kesedihan tak jauh beda dengan malam
tiap helainya adalah rajutan sejuta cemeti tanpa ruas
yang mencambuk dendam, melukai muram
payung bagi segala kenang di ruang ingatan
mengusap tangisan yang melebihi batas wajar
keningmu;
beberapa tanya terjebak saat ia kau kerutkan
kanvas lapang tempat kecupanku kau sembunyikan
pengantar doa yang lembut sebelum ia menyentuh lantai sujud
benteng maya yang kupercaya untuk menghindari maut
hatimu;
ini yang terakhir
ah, aku tak berani menuliskan hatimu
kupasrahkan kepada Tuhan saja untuk mengasuhnya
sebab disitu, tempat kutaruh harap agar hidup terus kau pelihara
ucapan "Selamat Ulang Tahun" tadi hanyalah caraku mencuri beberapa kata dari tubuhmu
karena sesungguhnya puisi ini ditulis sendiri oleh aortamu yang kerap menghubungi pikiranku
kedipanmu;
keajaiban terbaik yang dihadiahkan Tuhan
kubayangkan barisan tirai yang dibuka bidadari di pagi hari
mengirim sejuk bagi jantungku
dimana aku mulai percaya bahwa ada senjata yang kedap suara
dan satu-satunya mata yang lumpuh karena itu, ialah mataku
matamu;
sepasang musim yang bergerak seirama
ada hujan, salju dan dingin-dingin berbentuk lain
taman yang beraroma seribu bunga
titik kumpul kata-kata
yang tak pernah bisa kubaca dengan sekali eja
atau bisa saja,
rembulan besar yang lebih puitik dari purnama
alismu;
lengkung sabit maha tajam
tempat kesedihan dimakamkan dan bahagia dimekarkan
ketika keduanya kau angkat
aku bisa merasa bagaimana jika bumi berhenti tiba-tiba
Kuanggap kedua alis itu adalah tangan langit
yang sesekali mengulur genit
bertugas meremas cemas yang memanjang tanpa batas
rambutmu;
warna hitam rambutmu yang membuatku paham
bahwa warna kesedihan tak jauh beda dengan malam
tiap helainya adalah rajutan sejuta cemeti tanpa ruas
yang mencambuk dendam, melukai muram
payung bagi segala kenang di ruang ingatan
mengusap tangisan yang melebihi batas wajar
keningmu;
beberapa tanya terjebak saat ia kau kerutkan
kanvas lapang tempat kecupanku kau sembunyikan
pengantar doa yang lembut sebelum ia menyentuh lantai sujud
benteng maya yang kupercaya untuk menghindari maut
hatimu;
ini yang terakhir
ah, aku tak berani menuliskan hatimu
kupasrahkan kepada Tuhan saja untuk mengasuhnya
sebab disitu, tempat kutaruh harap agar hidup terus kau pelihara
11 Des 2012
Nubuat Dari Saku Langit
Caramu meremas hujan kusaksikan dalam kehangatan
gerakan lincah yang kerap mengagalkan kesedihan
menyuap satu persatu anak rindu dengan senyummu
hingga debar yang kurahasiakan,
bisa kau redam dengan sekali sentuhan
Anggap saja puisiku ini belum jadi
maaf, jika aku kurang bisa memahami cuaca dengan jeli
sebab, keterlambatan hujan juga menjadi alasan diri
kenapa bahasaku semakin gigil memeluk sunyi
Rampaslah kanvas langit yang masih kalis akan hujan, Sayang
lukiskan jejak bidadari yang kau sembunyikan
agar mendung lebih cepat menyerah kepada terang
lalu goreskan warna pelangi yang kedelapan
hingga janjiku bisa sesegar taman yang baru dipugar
Izinkan sekali lagi
kuhirup wangi perakmu yang pernah dikagumi matahari
hingga dendam semakin cepat beruban
meninggalkan kepala dengan menempuh langkah paling diam
disamarkan lirikmu yang hening
diriuhkan tawamu sebelum langit mengering
Nubuat ini kuanggap samudera
yang meniupkan tasbih-tasbih doa
hingga menjadi ombak sederhana yang memperpanjang usia
berhenti di pesisir waktu
untuk menghela napas baru atau sekedar melunakkan rindu
Engkaulah keheningan yang meramaikan malam
pesolek rahasia bagi langit yang membutuhkan bintang
menyanggupi tanpa janji
pemberani yang pantang sembunyi
dan betapapun aku dungu menata abjad
ada kesanggupan untuk mencintaimu kuat-kuat
gerakan lincah yang kerap mengagalkan kesedihan
menyuap satu persatu anak rindu dengan senyummu
hingga debar yang kurahasiakan,
bisa kau redam dengan sekali sentuhan
Anggap saja puisiku ini belum jadi
maaf, jika aku kurang bisa memahami cuaca dengan jeli
sebab, keterlambatan hujan juga menjadi alasan diri
kenapa bahasaku semakin gigil memeluk sunyi
Rampaslah kanvas langit yang masih kalis akan hujan, Sayang
lukiskan jejak bidadari yang kau sembunyikan
agar mendung lebih cepat menyerah kepada terang
lalu goreskan warna pelangi yang kedelapan
hingga janjiku bisa sesegar taman yang baru dipugar
Izinkan sekali lagi
kuhirup wangi perakmu yang pernah dikagumi matahari
hingga dendam semakin cepat beruban
meninggalkan kepala dengan menempuh langkah paling diam
disamarkan lirikmu yang hening
diriuhkan tawamu sebelum langit mengering
Nubuat ini kuanggap samudera
yang meniupkan tasbih-tasbih doa
hingga menjadi ombak sederhana yang memperpanjang usia
berhenti di pesisir waktu
untuk menghela napas baru atau sekedar melunakkan rindu
Engkaulah keheningan yang meramaikan malam
pesolek rahasia bagi langit yang membutuhkan bintang
menyanggupi tanpa janji
pemberani yang pantang sembunyi
dan betapapun aku dungu menata abjad
ada kesanggupan untuk mencintaimu kuat-kuat
30 Nov 2012
Pesta Penutup November
Kuundang beberapa tanggal yang sedang murung. Kupikir, pesta kecil ini cukuplah untuk menghargai perannya memutar jarum detik menjadi menit, lalu menjadi jam, hingga hari ini bisa bernama waktu. Menempuh beberapa cerita yang belum pernah aku reka sebelumnya. "Apakah kau juga akan mengundang rindu?" seorang sahabat dari kota kenangan bertanya. Ya, tentunya aku mengundang rindu. Paling tidak, ia bisa membacakan satu judul puisi, atau hanya sekedar meramaikan halusinasi.
Para dewa dan beberapa kerabat kayangan memilih sibuk menata bangku, meja dan beberapa botol wine yang kusadap dari ladang birahiku sendiri. Seingatku, ladang itu begitu subur diguyur kekaguman-kekaguman pasca aku menemukanmu. Daun-daun harapannya merindang, getah kebahagiaannya pun lancar. Putih, bening melebihi air telaga. Seperti mata Ibu, lebih tepatnya. Dibawah pengaruhnya, aku pernah mabuk bahasa dan memuntahkan seribu lima ratus sajak sekaligus. Peningnya di kepala begitu terasa, persis baling-baling kapal yang tak pernah tahu tujuan nahkoda.
Malam semakin keriput, namun kita masih larut. Gelegar suara disana-sini begitu meriah. Petir dan guntur memang begitu mengagumkan untuk urusan suara dan ledakan. Tak seberapa sulit untuk meminta bantuannya, karena kebetulan, ada salah satu teman yang berteman baik dengan mendung. Ya, hujan. Sayang dia tak bisa menghadiri undanganku malam ini. Namun tadi pagi, dia datang sebentar untuk mengantar setumpuk dingin di pelataran. Meninggalkan kado istimewa di ceruk-ceruk tanah yang berbau basah. Ah, sudahlah, hadir atau tak hadir, hujan tetap sahabat baik bagi langit.
Kita hanyut dalam gempita. Di atas panggung, kelebat lembut selendang bidadari menarikan gerakan surga diiringi purnama. Pantas saja jika malam ini begitu wangi. Di sana-sini, berserakan senyum yang jatuh dari bibir bintang yang berciuman dengan rasi. Dipunguti pemulung-pemulung jarak yang terbiasa patah hati. Sesekali, satu diantara mereka kuajak naik diatas panggung. Berdansa dengan gerakan liar dengan musik halilintar. Mereka juga berhak merasakan tepuk tangan yang meriah dari pertemuan. Agar disaat hujan, senja dan pagi datang, mereka tak terlalu meratap mengemis cium dan pelukan.
Rangkaian pesta ditutup oleh gelap. Sepertinya ia lebih paham, mata kita butuh terpejam. "Saya ucapkan terimakasih banyak buat semuanya, karena telah memberi saya waktu terbaik untuk jatuh cinta" Karena lelah, tak lagi kuhiraukan pagi yang sedang menyiapkan cahaya. Harusnya kuucap terimakasih juga kepadanya, karena pagi yang tekun menuntun satu persatu tamu undangan untuk pulang.
Para dewa dan beberapa kerabat kayangan memilih sibuk menata bangku, meja dan beberapa botol wine yang kusadap dari ladang birahiku sendiri. Seingatku, ladang itu begitu subur diguyur kekaguman-kekaguman pasca aku menemukanmu. Daun-daun harapannya merindang, getah kebahagiaannya pun lancar. Putih, bening melebihi air telaga. Seperti mata Ibu, lebih tepatnya. Dibawah pengaruhnya, aku pernah mabuk bahasa dan memuntahkan seribu lima ratus sajak sekaligus. Peningnya di kepala begitu terasa, persis baling-baling kapal yang tak pernah tahu tujuan nahkoda.
Malam semakin keriput, namun kita masih larut. Gelegar suara disana-sini begitu meriah. Petir dan guntur memang begitu mengagumkan untuk urusan suara dan ledakan. Tak seberapa sulit untuk meminta bantuannya, karena kebetulan, ada salah satu teman yang berteman baik dengan mendung. Ya, hujan. Sayang dia tak bisa menghadiri undanganku malam ini. Namun tadi pagi, dia datang sebentar untuk mengantar setumpuk dingin di pelataran. Meninggalkan kado istimewa di ceruk-ceruk tanah yang berbau basah. Ah, sudahlah, hadir atau tak hadir, hujan tetap sahabat baik bagi langit.
Kita hanyut dalam gempita. Di atas panggung, kelebat lembut selendang bidadari menarikan gerakan surga diiringi purnama. Pantas saja jika malam ini begitu wangi. Di sana-sini, berserakan senyum yang jatuh dari bibir bintang yang berciuman dengan rasi. Dipunguti pemulung-pemulung jarak yang terbiasa patah hati. Sesekali, satu diantara mereka kuajak naik diatas panggung. Berdansa dengan gerakan liar dengan musik halilintar. Mereka juga berhak merasakan tepuk tangan yang meriah dari pertemuan. Agar disaat hujan, senja dan pagi datang, mereka tak terlalu meratap mengemis cium dan pelukan.
Rangkaian pesta ditutup oleh gelap. Sepertinya ia lebih paham, mata kita butuh terpejam. "Saya ucapkan terimakasih banyak buat semuanya, karena telah memberi saya waktu terbaik untuk jatuh cinta" Karena lelah, tak lagi kuhiraukan pagi yang sedang menyiapkan cahaya. Harusnya kuucap terimakasih juga kepadanya, karena pagi yang tekun menuntun satu persatu tamu undangan untuk pulang.
17 Nov 2012
Empat Tahun Satu Pelangi
Menjelang empat tahun engkau menemaniku...
Carine, dari gerak jelitamu aku hendak menulis satu judul madah yang tak begitu luar biasa. Yang bisa dibaca embun hingga menjadi gembur atau setidaknya mampu membuat terik siang tak lagi berseteru dengan hujan. Retak bibir keringku yang terkadang perih memohon untuk berteduh di bagian terpencil bulu matamu. Rimbun akasia baru yang diciptakan senyummu, kerap sengaja kuseberangi dan kuasah tajam sebagai penggunting mimpi. Tepat di sebelah lesung pipimu, aku menyembunyikan bening rindu dari pecahan-pecahan alasan kenapa aku begitu mencintai seseorang yang melahirkanmu.
Carine, dari kecupan perak yang diajarkan para dewa, bibirku mendaratkan kecup di keningmu yang seumpama salju. Menyampaikan rahasia yang kurekam dari bisik-bisik kerabat kayangan, bahwa selain pengantar bahagia, tugasmu hanya di surga. Tak perlu kau genapi rintik hujan yang dijatuhkan sepagi ini, apalagi dengan airmata. Kedipanmu saja sudah cukup mengeringkan kata-kata lembab yang terlalu lama disimpan cuaca. Bersama usia, buatlah kalimat yang lebih jelas. Tanyakan apa saja. Darimana asal terang yang dipancarkan api atau dimana rembulan bersembunyi saat siang hari. Semua jawaban ada di matamu.
Carine, dalam lelapmu yang menenteramkan aku selalu ingin meloncat delapan jam kedepan. Untuk menyaksikan lagi tarian-tarian pagimu yang suci, bahkan gerakan yang belum sempat dihafalkan bidadari. Menjejakkan tulang muda, menyamai cahaya yang terbit dari kemaluan langit. Bagai pengemis yang menemukan harta karun, juga bagai air yang menemukan sumur, aku puja gerakan cahaya yang kau pentaskan dengan anggun. Sempat kuhitung satu persatu bintang yang terjatuh tadi malam. Kutaburkan di bawah guling yang kau peluk ketika pagi masih berlutut. Menyisakan gemerencing lucu, persis menyerupai suaramu ketika teringat waktu terbaik untuk minum susu.
Carine, dari gerak jelitamu aku hendak menulis satu judul madah yang tak begitu luar biasa. Yang bisa dibaca embun hingga menjadi gembur atau setidaknya mampu membuat terik siang tak lagi berseteru dengan hujan. Retak bibir keringku yang terkadang perih memohon untuk berteduh di bagian terpencil bulu matamu. Rimbun akasia baru yang diciptakan senyummu, kerap sengaja kuseberangi dan kuasah tajam sebagai penggunting mimpi. Tepat di sebelah lesung pipimu, aku menyembunyikan bening rindu dari pecahan-pecahan alasan kenapa aku begitu mencintai seseorang yang melahirkanmu.
Carine, dari kecupan perak yang diajarkan para dewa, bibirku mendaratkan kecup di keningmu yang seumpama salju. Menyampaikan rahasia yang kurekam dari bisik-bisik kerabat kayangan, bahwa selain pengantar bahagia, tugasmu hanya di surga. Tak perlu kau genapi rintik hujan yang dijatuhkan sepagi ini, apalagi dengan airmata. Kedipanmu saja sudah cukup mengeringkan kata-kata lembab yang terlalu lama disimpan cuaca. Bersama usia, buatlah kalimat yang lebih jelas. Tanyakan apa saja. Darimana asal terang yang dipancarkan api atau dimana rembulan bersembunyi saat siang hari. Semua jawaban ada di matamu.
Carine, dalam lelapmu yang menenteramkan aku selalu ingin meloncat delapan jam kedepan. Untuk menyaksikan lagi tarian-tarian pagimu yang suci, bahkan gerakan yang belum sempat dihafalkan bidadari. Menjejakkan tulang muda, menyamai cahaya yang terbit dari kemaluan langit. Bagai pengemis yang menemukan harta karun, juga bagai air yang menemukan sumur, aku puja gerakan cahaya yang kau pentaskan dengan anggun. Sempat kuhitung satu persatu bintang yang terjatuh tadi malam. Kutaburkan di bawah guling yang kau peluk ketika pagi masih berlutut. Menyisakan gemerencing lucu, persis menyerupai suaramu ketika teringat waktu terbaik untuk minum susu.
Langganan:
Postingan (Atom)