Tuhan...
Apakah kali ini Kau sedang mengajakku bercanda?
Siapa dia?
Seonggok tubuh yang Kau kemas sama
Kau kirim tepat ditepian jendela tempat bahagiaku bernafas
Mengoyak kenang yang telah ku taruh di beranda belakang
Membuka janji yang telah ku tali mati
Apakah dia hawa ke tujuh ciptaanmu?
Yang mereka bilang ada di belahan dunia mana saja
Yang harus kuterka
Menyerupai kita namun bukan kita
Tuhan...
Beri aku jalan yang Kau anggap paling terang
Pada waktu yang serba biasa
Aku terpaksa menjalani lagi putaran yang diulangi
Pada jarum jam yang panjang aku menunduk
Malu aku pada dunia kecil yang telah kubentuk
Sederhana namun tanpa reka
Tak pernah berjanji pun tak kenal mengkhianati
Tuhan...
Apakah dia bisa meniru dan menarikan gerakannya?
Gerakan yang kerap menumpang tindih rinduku
Dengan atau tanpa cinta
Cinta para pembuat mimpi yang dibekukan dari keringat sendiri
Cinta yang tak mengenal usai apalagi selesai
Ambilah ingatanku jika engkau mau
Sisakan yang sekarang saja
Dan yang masih ada didepan sana
28 Jul 2012
27 Jul 2012
Musim Renyah Di Akhir Juli
Tidakkah kau rasakan dingin tanganku menengadahkan doa untukmu?
Doa yang masih selalu tentangmu
Tentang kerinduan, kebaikan, juga kenangan
Di akhir Juli yang panas
Musim renyah dikeringkan matahari
Gigil dedaunan tak lagi kudapati
Embun, tampaknya sedang berselisih dengan sunyi
Jika kau ijinkan sekali lagi, malam ini
Aku ingin mengajakmu membersihkan gelap
Yang menggigilkan pelataran
Kita rapikan, lalu kita susun menjadi pembaringan
Kita berbaring berdua saja
Menghadap langit yang sabar
Memaafkan gedung-gedung yang hampir mencakar
Menyaksikan tarian bintang
Bulan yang sedang merias wajahnya
Juga rasi-rasi yang belum tertata sempurna
Disampingmu, sayang
Dalam keadaan berbaring seperti ini
Sungguh, aku ingin melupakan usia
Karena bahagiaku, adalah tetap hidup untuk menghidupimu
Karena tak ada lagi hangat yang memelukku melebihi dekapmu
Doa yang masih selalu tentangmu
Tentang kerinduan, kebaikan, juga kenangan
Di akhir Juli yang panas
Musim renyah dikeringkan matahari
Gigil dedaunan tak lagi kudapati
Embun, tampaknya sedang berselisih dengan sunyi
Jika kau ijinkan sekali lagi, malam ini
Aku ingin mengajakmu membersihkan gelap
Yang menggigilkan pelataran
Kita rapikan, lalu kita susun menjadi pembaringan
Kita berbaring berdua saja
Menghadap langit yang sabar
Memaafkan gedung-gedung yang hampir mencakar
Menyaksikan tarian bintang
Bulan yang sedang merias wajahnya
Juga rasi-rasi yang belum tertata sempurna
Disampingmu, sayang
Dalam keadaan berbaring seperti ini
Sungguh, aku ingin melupakan usia
Karena bahagiaku, adalah tetap hidup untuk menghidupimu
Karena tak ada lagi hangat yang memelukku melebihi dekapmu
23 Jun 2012
Matamu, Sepasang Cahaya Aksara
Matamu, sepasang cahaya aksara
Menuang kantuk yang lenyap diantara gelap
Aku, mimpi yang belum sempat kau tidurkan
Padahal sore tadi, aku sudah lelap dikaki surga
Seberapa berani bahagiamu diadu?
Dadaku masih menjadi pengingat yang hebat
Hingga sekarang, pelukanmu saja masih ia hafalkan
Matamu, sepasang cahaya aksara
Menjadikan kaki duka lumpuh meluluh
Padamu, muasal bahagia yang tak pernah kuterka
Suguhkan mahkota gemerlap, pias dari segala harap
Menguasai kepala, hingga ke dada-dada
Berdiamlah diantara jantungku
Lalu rasakan, segala degubmu yang aku pinjam
Matamu, sepasang cahaya aksara
Airmata pernah berkubang lesu pada kelopaknya
Terkadang kau jatuhkan dengan tiba-tiba
Aku menjadi bulu mata yang ditenggelamkan dingin basahnya
Di setengah perjalanannya membelah pipi
Aku tak pernah mengamini wajahmu yang memucat pasi
Jika kau urungkan tangismu lagi, kuselesaikan selembar puisi
Menuang kantuk yang lenyap diantara gelap
Aku, mimpi yang belum sempat kau tidurkan
Padahal sore tadi, aku sudah lelap dikaki surga
Seberapa berani bahagiamu diadu?
Dadaku masih menjadi pengingat yang hebat
Hingga sekarang, pelukanmu saja masih ia hafalkan
Matamu, sepasang cahaya aksara
Menjadikan kaki duka lumpuh meluluh
Padamu, muasal bahagia yang tak pernah kuterka
Suguhkan mahkota gemerlap, pias dari segala harap
Menguasai kepala, hingga ke dada-dada
Berdiamlah diantara jantungku
Lalu rasakan, segala degubmu yang aku pinjam
Matamu, sepasang cahaya aksara
Airmata pernah berkubang lesu pada kelopaknya
Terkadang kau jatuhkan dengan tiba-tiba
Aku menjadi bulu mata yang ditenggelamkan dingin basahnya
Di setengah perjalanannya membelah pipi
Aku tak pernah mengamini wajahmu yang memucat pasi
Jika kau urungkan tangismu lagi, kuselesaikan selembar puisi
10 Jun 2012
Siapa?
"Senja dan perdebatan telah usai. Kesimpulan pun terbentuk; dua orang diantara kita yang lebih dulu mencintai adalah kamu dan aku"
Sebelumnya saya pernah ngetwit kata diatas, tentang senja dan perdebatan dengan perempuan yang saya cintai dan mencintai saya. Entahlah, kenapa kata senja selalu terbesit dalam pikiran saya saat menatap matanya.
Suatu malam yang belum terlalu larut...
Saya dan dia sengaja mengawali istirahat agak sore. Dengan suasana malam yang belum terlalu menua, gerimis terlalu cekatan untuk mengirim udara dingin. Dalam satu selimut, kita berbaring saling berhadapan. Tangan kita saling menggenggam, mata kita saling bertatapan. Saat itulah saya menemukan senja dari matanya. Dan saat itu juga dia memcahkan hening dengan bertanya lirih "menurutmu, siapa diantara kita yang lebih dulu mencintai?" Dengan penuh kejujuran saya menjawab lirih pula "aku..." Dia mengerutkan kening, lalu tersenyum "salah..., aku yang lebih dulu mencintaimu..." Saya sempat diam beberapa detik setelah dia mengucapkan kalimat itu. Sebelum saya menanyakan alasannya, dia sudah menjawab lebih dulu "diantara Adam dan Hawa, sangat lucu jika Hawa diciptakan lebih dulu sebelum tulang rusuk Adam terbentuk" satu alasan yang cukup bisa saya terima.
Lalu, dengan apa saya memberi alasan tentang jawaban saya? "terserah jika kamu punya anggapan seperti itu, yang jelas, aku yang lebih dulu mencintaimu" ucap saya dengan dasar kejujuran saya. "salah, aku yang lebih dulu..." "aku..." "aku..." "aku, aku..." perdebatan kecil itu berhenti saat tangannya menjamah pipi saya sambil dia berkata "berarti kita saling mencintai..." tawa kita pun tumpah diatas pembaringan tanpa kita harus berpikir bagaimana cara kita membersihkannya esok. Yah..., esok memang selalu tidak pasti, sayang... Jadi, ada baiknya jika esok tidak mengganggu pikiran kita untuk menikmati hari ini sepenuhnya. Dan kesimpulan pun terbentuk; dua orang diantara kita yang lebih dulu mencintai adalah kamu dan aku. Satu lagi, kita tak akan pernah ingin berpisah meski kita sering bertengkar tentang siapa diantara kita yang lebih dulu mencintai.
Sebelumnya saya pernah ngetwit kata diatas, tentang senja dan perdebatan dengan perempuan yang saya cintai dan mencintai saya. Entahlah, kenapa kata senja selalu terbesit dalam pikiran saya saat menatap matanya.
Suatu malam yang belum terlalu larut...
Saya dan dia sengaja mengawali istirahat agak sore. Dengan suasana malam yang belum terlalu menua, gerimis terlalu cekatan untuk mengirim udara dingin. Dalam satu selimut, kita berbaring saling berhadapan. Tangan kita saling menggenggam, mata kita saling bertatapan. Saat itulah saya menemukan senja dari matanya. Dan saat itu juga dia memcahkan hening dengan bertanya lirih "menurutmu, siapa diantara kita yang lebih dulu mencintai?" Dengan penuh kejujuran saya menjawab lirih pula "aku..." Dia mengerutkan kening, lalu tersenyum "salah..., aku yang lebih dulu mencintaimu..." Saya sempat diam beberapa detik setelah dia mengucapkan kalimat itu. Sebelum saya menanyakan alasannya, dia sudah menjawab lebih dulu "diantara Adam dan Hawa, sangat lucu jika Hawa diciptakan lebih dulu sebelum tulang rusuk Adam terbentuk" satu alasan yang cukup bisa saya terima.
Lalu, dengan apa saya memberi alasan tentang jawaban saya? "terserah jika kamu punya anggapan seperti itu, yang jelas, aku yang lebih dulu mencintaimu" ucap saya dengan dasar kejujuran saya. "salah, aku yang lebih dulu..." "aku..." "aku..." "aku, aku..." perdebatan kecil itu berhenti saat tangannya menjamah pipi saya sambil dia berkata "berarti kita saling mencintai..." tawa kita pun tumpah diatas pembaringan tanpa kita harus berpikir bagaimana cara kita membersihkannya esok. Yah..., esok memang selalu tidak pasti, sayang... Jadi, ada baiknya jika esok tidak mengganggu pikiran kita untuk menikmati hari ini sepenuhnya. Dan kesimpulan pun terbentuk; dua orang diantara kita yang lebih dulu mencintai adalah kamu dan aku. Satu lagi, kita tak akan pernah ingin berpisah meski kita sering bertengkar tentang siapa diantara kita yang lebih dulu mencintai.
4 Jun 2012
(p)Ending
Dalam kehidupan, selalu ada ruang yang bernama "Kesalahan". Ruangan yang disediakan Tuhan untuk mempertemukan kita dalam satu kata "Memaafkan". Namun, apakah kita harus memasuki ruangan itu dengan paksaan dan dorongan Fitnah? Seperti yang kita tahu, adzab Allah tetap berlaku untuk kata itu.
Berawal dari fitnah yang tertuju ke salah satu anggota keluarga saya. Satu-satunya hal yang terjadi pertama kalinya pada anggota keluarga saya sejak saya lahir. Fitnah yang berawal dari drama kuno yang bernama "SMS TERROR". SMS yang terkirim pada 2 orang; yang selama ini menjadi gebetan sahabat saya. Yang perlu saya tandaskan, sejujurnya drama ini tidaklah menjadi permasalahan saya seutuhnya. Yang mengharuskan saya masuk didalamnya adalah, dorongan fitnah yang tertuju pada anggota keluarga saya. Padahal jika ditelisik sampai ujung dunia manapun, sama sekali tidak ada modus apapun jika keluarga saya melakukan hal itu. Para sahabat dan orang-orang baik disekitar saya, bisa menjadi saksi atas statemen saya ini. Jawaban mengerucut kepada satu orang. Saya dan orang-orang baik disekitar saya tidak main-main dengan jawaban itu. Ada dalih tersendiri kenapa kita punya jawaban itu, tidak asal beropini. Disertai bukti-bukti kuat dari para korban dan bukti-bukti lain yang kami kumpulkan dari masalalu yang menimpa orang-orang disekitar pelaku (yang pada awalnya saya tidak mempercayai hal itu). Dan satu orang jawaban itu notabene punya hubungan "entah apa" dengan dengan sahabat saya.
INI HARUS DIUSUT!! Kata hati saya saat itu juga, beberapa detik setelah saya mendengar dan membaca pernyataan yang seolah-olah anggota keluarga saya tertuduh atas tindakan bodoh ini. Sekaligus untuk memastikan kepada semua orang tentang statemen saya bahwa, tidak ada modus apapun jika keluarga saya melakukan tindakan bodoh semacam itu. Kita berkumpul dalam satu forum sederhana, saya, anggota keluarga saya, dan beberapa orang baik. Saya buka perbincangan dengan berbagai pertanyaan yang saya lontarkan kepada sahabat saya yang punya gebetan, yah... meskipun dengan jawaban yang berbelit-belit. Ada 2 hal paling lucu dalam pertemuan ini.
Pertama: Seorang pelaku yang menjadi jawaban saya dan orang-orang baik di sekitar saya itu mengaku kalau dia juga di teror dengan sms yang sama.
Kedua: Seorang pelaku yang menjadi jawaban saya dan orang-orang baik di sekitar saya itu menolak dipertemukan dengan ke 2 korban untuk di Sumpah, entah itu atas nama Al Qur'an atau hal yang menurut kita mujarab sebagai umat Muslim. Perlu diketahui, sumpah semacam itu adalah permintaan sahabat saya (yang punya gebetan). Mendengar 2 pernyataan itu, saya sempat hanya tertawa dalam hati. Fikiran saya sih sederhana, saya menganggap pernyataan pertama tersebut hanya sebuah alibi untuk mencuci nama pelaku. Bagaimana dengan pernyataan kedua? Cukup mudah ditebak.
Setelah mendengar ke 2 hal lucu tersebut, sesegera mungkin saya mengakhiri forum dengan alasan yang amat sangat mudah untuk ditebak. Yah..., sudah terlihat jelas siapa pelaku yang memainkan drama kuno ini.
Saya ambil kesimpulan sederhana dari masalah ini. Pertama; "Mungkin, di mata pelaku, saya dan keluarga saya adalah orang miskin, orang kalangan bawah, yang mudah dibodohi begitu saja. Tapi hal ini tidak berlaku buat Tuhan. Dan saya tidak perlu bersusah payah mengklarifikasi hal ini dengan Tuhan. Bukankah Tuhan Maha Melihat, teman?". Yang kedua; Ada lubang besar yang tidak mungkin saya tabrak lagi, lubang yang dulu pernah ditunjukan oleh orang-orang baik kepada saya dan saya tidak mempercayai, karena lubang itu tertutup begitu rapi. Sekali lagi, saya dan keluarga tidak akan melewati jalan yang berlubang itu".
6 Mei 2012
Dipercantik Takdir
Ini adalah awal dari sebuah rasa yang bernama bahagia. Ketika surga mengijinkanmu untuk memijakkan kaki di bumi, metafora dimulai. Entah sengaja atau tibatiba, tatap mata kita bertemu, dan seterusnya aku bahagia, sejak itu. Wangi tubuhmu selalu membanting sukma, dirajam senyum yang setara dengan ujung pedang, tajam dan membinasakan. Tak ada kata lain! Tatapanmu adalah wacana, menerjemahkan pengertian jika cinta adalah sebuah danau, lalu kita dikutuk menjadi sepasang ikan, dan saat mata kita bisa berkedip, kita boleh mengawali kebahagiaan. Menjalani segalanya tanpa rayuan, karena rayuan tak ubahnya ancaman yang diucapkan dengan mesra. Menaiki anak tangga yang tersusun dari cahaya, serupa tangisan bayi yang lebih putih dari mutiara. Memasrahkan diri untuk disetubuhi kekaguman yang bertubitubi. Yah, seperti takdirnya sendiri, didalam cinta, tak ada jatuh yang tak bahagia.
Kehadiranmu di dunia seperti perintah Tuhan, agar Sorga selalu terbayang ketika do'a sedang kupanjatkan. Selanjutnya aku tak pernah terkejut, ketika kekagumanku sendiri yang menyuruhmu menghuni mimpi. Menyaksikan senyummu saja, dua detik kedepan aku akan menjadi seorang buta untuk melihat kesedihan, lalu bisu untuk mengucap keluhan. Entahlah, tibatiba aku lupa warna airmata. Ketika katakata menyembunyikanku dalam bilik rindumu yang mahapuisi. Bertanding melawan rindu yang sedang mabuk berat dalam warasku. Sedang senyummu, minuman paling anggur yang kusuling perlahan dari ladang anganku. Gerakan tubuhmu; kaki jenjang bidadari yang mengitari purnama. Kekagumanku; sorak anak kecil yang belum mengenal gerhana. Dingin yang kau rasakan, barangkali salah satu cara agar aku tak pernah lupa menawarkan pelukan. Kekagumanku seolah menjadi berita yang baik, saat dingin terbawa langkah kaki sunyi menuju kesini. Lalu kita merayakan ciuman perak tak berujung dan menambah satuan detak jantung. Jika kelak aku tak mampu melihatmu dalam pandangan, aku tetap bisa bersyukur karena kau pernah bermukim dalam ingatan.
Kehadiranmu di dunia seperti perintah Tuhan, agar Sorga selalu terbayang ketika do'a sedang kupanjatkan. Selanjutnya aku tak pernah terkejut, ketika kekagumanku sendiri yang menyuruhmu menghuni mimpi. Menyaksikan senyummu saja, dua detik kedepan aku akan menjadi seorang buta untuk melihat kesedihan, lalu bisu untuk mengucap keluhan. Entahlah, tibatiba aku lupa warna airmata. Ketika katakata menyembunyikanku dalam bilik rindumu yang mahapuisi. Bertanding melawan rindu yang sedang mabuk berat dalam warasku. Sedang senyummu, minuman paling anggur yang kusuling perlahan dari ladang anganku. Gerakan tubuhmu; kaki jenjang bidadari yang mengitari purnama. Kekagumanku; sorak anak kecil yang belum mengenal gerhana. Dingin yang kau rasakan, barangkali salah satu cara agar aku tak pernah lupa menawarkan pelukan. Kekagumanku seolah menjadi berita yang baik, saat dingin terbawa langkah kaki sunyi menuju kesini. Lalu kita merayakan ciuman perak tak berujung dan menambah satuan detak jantung. Jika kelak aku tak mampu melihatmu dalam pandangan, aku tetap bisa bersyukur karena kau pernah bermukim dalam ingatan.
25 Apr 2012
Band Yang Gak Pernah End
"Untuk menyelamatkan beberapa bagian hidupku" Ini adalah salah satu alasan yang meneteskan airmataku, tepat dua menit setelah aku mendengarkan lagu Famous Last Word nya My Chemicals Romance, dari sebuah radio. Band ini yang pernah menjadi kiblat kita. Sekelompok anak muda yang pernah menempatkan aku dibaris kedua paling kiri, memberikan aku predikat komposer (meski aku tidak sekaliber Erros atau Achmad Dhani), dan menjadikan aku motor untuk berbagai projek yang kita kerjakan. Yah, kalian adalah sahabat yang telah berkarib dengan denyut nadiku, satu telinga satu rasa, hingga menggumpal pada sebuah kegiatan musik yang mengharuskan kita selalu satu panggung selama 5 pergantian kalender. Epiphone, Tama Star Classic, Gibson, Yamaha RBX, juga Shure Super Classic menjadi hantu dan candu yang membuat kita hanyut dalam ketergantungan bersama. Ketergantungan yang pernah membawa kita menuju beberapa prestasi yang cukup luar biasa (menurut kita) di bidangnya.
Untuk saat ini, kalian sudah menjadi kapan yang entah, jawaban tak pernah aku temukan sebagai kabar. Perjuangan yang mencambuk kalian untuk tetap maju, harus rela meninggalkan aku yang juga harus menyelamatkan beberapa bagian hidupku. Tapi percayalah, ada atau gak aku, kalian tetap sebuah band yang gak pernah end, slow tapi gak melow. Kalian adalah identitas yang menyerupai sidik jari, tak akan terganti dan terbeli. Aku bukanlah penyair tunggal seperti yang kalian anggap. Lagu dan lyric2 mentah akan terus kulahirkan buat kalian. Tagih saja, kelak jika kalian bertandang. Untuk sejumlah kerinduanku; nafas vodka, aroma junkies, dan tatto kalian akan tetap menjadi urutan paling atas. Dan semoga saja, menghapus tatto bukanlah menjadi bagian dari kontrak label yang kelak akan kalian tandatangani. Lupakanlah segala tuntutan! Seperti yang kalian bilang, "terkenal belum tentu menjamin kepuasan". Tetap melangkah guys!
Untuk saat ini, kalian sudah menjadi kapan yang entah, jawaban tak pernah aku temukan sebagai kabar. Perjuangan yang mencambuk kalian untuk tetap maju, harus rela meninggalkan aku yang juga harus menyelamatkan beberapa bagian hidupku. Tapi percayalah, ada atau gak aku, kalian tetap sebuah band yang gak pernah end, slow tapi gak melow. Kalian adalah identitas yang menyerupai sidik jari, tak akan terganti dan terbeli. Aku bukanlah penyair tunggal seperti yang kalian anggap. Lagu dan lyric2 mentah akan terus kulahirkan buat kalian. Tagih saja, kelak jika kalian bertandang. Untuk sejumlah kerinduanku; nafas vodka, aroma junkies, dan tatto kalian akan tetap menjadi urutan paling atas. Dan semoga saja, menghapus tatto bukanlah menjadi bagian dari kontrak label yang kelak akan kalian tandatangani. Lupakanlah segala tuntutan! Seperti yang kalian bilang, "terkenal belum tentu menjamin kepuasan". Tetap melangkah guys!
That's what music is entertainment. The more you put yourself into it, the more of you comes out in it ~ Kurt Cobain
Langganan:
Postingan (Atom)